Kenapa langit berwarna biru?

Atmosfer menghamburkan cahaya Matahari, menyisakan keelokan biru buat mata kita.Atmosfer menghamburkan cahaya Matahari, menyisakan keelokan biru buat mata kita.

Celestron AstroMaster 130EQ

Teleskop ini cocok untuk pemula astronomi meski belum memiliki penggerak otomatis..

Objek Messier

Ingin memulai pengamatan langit malam? Kenapa tidak mencoba melihat Objek Messier.

Monumen astronomi bernama Borobudur

Lebih satu milenium lalu, candi Buddha ini adalah rumah ibadah sekaligus observatorium.

Lubang hitam yang mengerikan?

Apakah objek langit ini benar-benar seperti yang Anda pikirkan?

Showing posts with label phenomena. Show all posts
Showing posts with label phenomena. Show all posts

Wednesday, January 28, 2009

Sebagian Gerhana Matahari Sebagian Dari Bukittinggi

Saya nyaris gagal mengamati gerhana Matahari awal tahun ini. Pasalnya hingga pagi hari 26 Januari 2009, awan tebal bergerombol di langit Bukittinggi. Menjelang siang, Matahari mulai menampakkan wajah dari sela-sela awan.

Kemunculan Matahari membuka kesempatan menguji peralatan pemotretan yang telah saya siapkan sebelumnya: kamera digital dan filter dari dua lapis piringan magnetik disket.

Pukul 13.00, cuaca berubah tak bersahabat. Awan kembali berarak menutupi seluruh langit. Matahari tidak nampak. Saya terpaksa mengurungkan niat untuk berangkat ke sebuah bukit yang berjarak 2 kilometer dari rumah.

Menurut rencana semula, saya akan memotret dari lokasi ini. Bukit tersebut berketinggian 40-50 meter, memiliki pemandangan lepas ke arah barat. Jika perhitungan saya tidak meleset, Jam Gadang sejarak 1 kilometer akan berada kira-kira 75 derajat ke arah barat jika diukur dari utara. Dengan posisi ini, Jam Gadang akan persis berada di bawah Matahari saat gerhana mulai terjadi. Kamera digital dengan perbesaran 10 kali bisa mengambil rangkaian gambar yang kemudian disusun menjadi mozaik. Lagi pula, pada jarak 1 kilometer, Jam Gadang membentang hingga 1 derajat busur atau kira-kira dua kali diameter Matahari.

Semua rencana gagal karena cuaca. Saya memilih menunggu di rumah saja.



Pukul 15.00, Matahari mulai muncul dari balik awan. Saya masih sempat menguji kamera dan filter untuk pemotretan sebelum gerhana terjadi. Beberapa foto yang saya ambil menghasilkan gambar yang tidak fokus. Awan tipis di sekitar Matahari mengganggu mekanisme pencarian fokus otomatis membuat kamera bekerja tidak bekerja optimal.

Akhirnya saya mencoba sebuah trik. Sayamengarahkan kamera ke objek jauh sambil memencet setengah shutter. Segera setelah itu, kamera saya arahkan ke Matahari dan satu pencetan penuh saya lakukan. Berhasil!

Pukul 15.30, Bulan kembali menutupi Matahari. Lima menit kemudian, saya bisa merekam wajah Matahari. Saya memotret setiap interval 5 menit. Pukul 15.50, awan lewat di depan Matahari, seakan tak mau kalah dengan Bulan. Bah! Setelah 15 menit menunggu, awan tak kunjung beranjak dari depan Sang Surya. Saya pun memutuskan berhenti melakukan pengamatan.

Namun selang sepuluh menit gerhana, saya sempat memotret tiga bingkai foto. Gambar di bawah adalah hasil pemotretan sebagian gerhana Matahari sebagian dari kota Bukittinggi. Bisa terlihat bagaimana piringan Bulan mulai menggerogoti pinggiran Matahari dari sisi kiri bawah. "Aura" di sekeliling Matahari adalah pendaran cahaya akibat kehadiran awan tipis.


Berikut adalah purnama yang saya ambil pada malam sebelum gerhana Matahari.

Saturday, January 17, 2009

Mana yang Lebih Sering Terjadi: Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan?

Manakah yang lebih sering terjadi: gerhana Matahari atau gerhana Bulan? Jika menilai berdasarkan pengalaman pribadi tampaknya jawaban kita bisa jadi seragam: gerhana Bulan terjadi lebih sering. Saya telah mengamati setidaknya 3 kali banyak gerhana Bulan selama tujuh tahun terakhir dan pada rentang waktu yang sama saya tidak pernah mengamati satu gerhana Matahari sekalipun. gerhana Matahari terakhir yang saya lihat adalah Gerhana Matahari Sebagian 16 Februari 1999. Menilai dari apa yang saya alami wajar jika saya berkesimpulan bahwa gerhana Bulan lebih banyak terjadi dibandingkan gerhana Matahari. Bagaimana dengan kesimpulan anda?

Pada kenyataannya, rata-rata setiap abad terjadi 238 kali gerhana Matahari dan 154 kali gerhana Bulan. jelas bahwa gerhana Matahari lebih sering terjadi ketimbang gerhana Bulan. Namun kenapa kenyataan ini berbeda dengan pengalaman kita?

Gerhana Bulan disaksikan lebih sering ketimbang gerhana Matahari karena purnama bisa disaksikan dari setengah belahan Bumi yang mengalami malam. Akibatnya sebagian besar umat manusia bisa menyaksikan Bulan masuk ke bayangan Bumi. Kenyataan lain adalah gerhana Bulan berlangsung beberapa jam sehingga akibat rotasinya maka ada kesempatan bagi manusia yang berganti waktu menjadi malam dapat mengamati gerhana.

Gerhana Matahari dapat diamati jika bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi. Wilayah yang disapu oleh bayangan Bulan relatif lebih kecil. Tidak semua bagian Bumi yang mengalami siang dapat mengamati gerhana Matahari. Kalaupun bisa diamati, Gerhana Matahari terjadi dalam durasi yang jauh lebih singkat dibandingkan durasi gerhana Bulan sehingga manusia yang tinggal suatu tempat akan sering melewatkan gerhana Matahari.

Walaupun langka terjadi namun gerhana Bulan menyapu wilayah yang luas sehingga lebih banyak orang berkesempatan menyaksikannya.

Wednesday, January 14, 2009

Kacamata Keren Untuk Mengamati Gerhana Matahari

Sedikit prakarya untuk anda. Download pola kacamata untuk menemani anda melakukan pengamatan gerhana Matahari 26 Januari 2009 di sini. Tetap keren dan aman mengamati gerhana Matahari!

Tuesday, January 13, 2009

Simulasi Gerhana Matahari 26 Januari 2009 Untuk Berbagai Kota di Indonesia

Penampakan gerhana Matahari 26 Januari 2009 dari berbagai kota. Simulasi menggunakan software Starry Night Backyard. 
Simulasi untuk kota-kota lain:
Kota-kota yang mengalami Gerhana Matahari Sebagian:
Kota Medan
Kota Bandung
Pantai Kuta
Pemandangan Gerhana Matahari Cincin dari kota Lampung dan kota-kota lain di propinsi Lampung.
Gerhana dimulai kira-kira pukul 15.30 WIB, berpuncak kira-kira satu jam kemudian.
Selamat mengamati gerhana Matahari! 

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009

Gerhana Matahari Cincin akan terjadi pada tanggal 26 Januari 2009. Gerhana Matahari Cincin dapat diamati di kota-kota tertentu yang terletak di provinsi Lampung. Bulan akan menyentuh piringan Matahari kira-kira pukul 15.19 WIB hingga 15.40 WIB, bergantung pada posisi pengamatan. Puncak gerhana jika dilihat dari berbagai wilayah di Indonesia terjadi antara pukul 16.28 WIB hingga pukul 16.55 WIB. Piringan Bulan akan meninggalkan permukaan Matahari sekitar pukul 18.00 WIB. Pada saat puncak, Matahari akan tampak sebagai bundaran terang dengan piringan hitam di tengahnya.

Gerhana Matahari Sebagian dapat diamati dari berbagai daerah di Indonesia khususnya Indonesia bagian barat dan tengah karena seperti terlihat dari gambar di bawah, bayangan Bulan (lingkaran kuning) jatuh ke sebagian wilayah Indonesia. Pulau-pulau yang dapat mengamati Gerhana Matahari Sebagian adalah: Sumatera, Bangka, Belitung, Jawa, Madura, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Piringan Bulan akan menyentuh piringan Matahari kira-kira pukul 15.30 WIB, dan puncak gerhana terjadi kira-kira satu jam kemudian.


Simulasi gerhana Matahari dapat dilihati di youtube, dapatkan linknya di sini.

Filter sebaiknya digunakan ketika mengamati matahari. Filter dapat dibuat dari berbagai benda yang ada disekitar kita seperti floppy disc model lama, negatif film yang terbakar, kaca film mobil yang gelap, kotak proyektor, dan air.

Jika kita floppy disc model lama maka kita akan menemukan piringan magnetik berwarna hitam. Pirangn ini bisa kita gunakan untuk mengamati gerhana matahari. Caranya dengan meletakkan piringan magnetik tersebut di depan mata sambil melihat ke arah Matahari. Untuk alasan kenyamanan, sebaiknya kita tidak melihat terlalu lama dengan filter seperti ini karena jumlah piringan Matahari masih tampak menyilaukan. Solusi lain adalah dengan menggandakan lapisan piringan magnetik.

Berikutnya kita bisa menggunakan negatif film yang terbakar. Belilah satu rol negatif film kemudian tarik satu rol film tersebut di bawah cahaya Matahari sehingga negatif filma akan “terbakar”. Pada dasarnya kita merusak emulsi film sehingga menggumpal sedemikian tebal. Lalu cucilah negatif film yang telah terbakar tersebut ke studio foto. Negatif film yang telah dicuci tersebut dapat kita gunakan untuk mengamati gerhana Matahari. Caranya dengan meletakkan negatif film tersebut di depan mata sambil melihat ke arah Matahari.
Jika anda berada di perjalanan maka anda bisa melihat gerhana Matahari dari balik kaca film mobil anda, syaratnya: kaca film tersebut cukup gelap sehingga mata anda nyaman mengamati Matahari. Untuk keselamatan mata sebaiknya jangan berlama-lama meihat ke arah Matahari. Pengamatan dapat dilakukan secara berulang-ulang dengan durasi pengamatan sekitar 2 hingga 3 detik. Cara ini pernah saya lakukan saat Gerhana Matahari Cincin 16 Februari 1999 yang terjadi pagi hari di kota Bukittinggi. Saya yang waktu itu sedang dalam perjalanan ke sekolah, melihat gerhana dari balik kaca film mobil. Pengamatan terasa kurang menyenangkan karena setiap saat saya harus mengalihkan pandangan dari Matahari sampai beberapa sat kemudian kembali memandang Matahari.

Kotak proyektor juga bisa anda gunakan untuk mengamati Matahari. Caranya dengan membuat kotak berukuran kira-kira 30X15X10cm (kira-kira sebesar kotak sepatu) dari kertas karton putih. Pada sisi paling kecil anda bisa membuat sebuah lubang kecil sebagai jalur masuk cahaya Matahari dan sebuah lubang lain tempat mengintip cahaya yang hasil proyeksi. Cara ini adalah cara paling aman untuk mengamati gerhana Matahari karena kita hanya melihat bayangan cahaya Matahari yang terproyeksi. Namun sebagian orang berpendapat melihat langsung jauh lebih menyenangkan.


Al-Biruni, astronom abad pertengahan menggunakan air untuk melihat cahaya Matahari. Caranya dengan memposisikan kepala kita sehingga dapat melihat gerhana Matahari dari permukaan air. Sebaiknya air ditempatkan di wadah yang cukup kecil guna membuat permukaan ai rtidak berriak. Walaupun Matahari masih tampak sedikit menyilaukan namun cara ini masih digunakan oleh sebagian orang.

Jika anda menggunakan teleskop atau binokular maka jangan pernah melihat langsung Matahar. Cahaya Matahari akan berkali lipat lebih terang jika dilihat dengan alat bantu optik ini. Untuk itu sebaiknya gunakan filter Matahari yang dirancang khusus untuk mengamati Matahari. Jika vendor teleskop atau binokular tidak menemukan filter Matahari, gunakan kertas mylar. Walaupun kertas mylar telah dipasang di depan lensa objektif namun jangan melihat Matahari terlalu lama paling lama 3-5 detik.

Selamat mengamati gerhana matahari dengan aman. Semoga langit anda cerah.

Sunday, May 25, 2008

Borobudur dan Polaris

Kutub langit adalah titik temu perpanjangan sumbu rotasi Bumi dengan bidang langit. Dari tahun ke tahun posisi kutub langit berubah karena presesi sebesar ~ 50" per tahun.

Pada masa sekarang kutub utara langit dekat sekali dengan Bintang Kutub (Polar Star, Polaris) dengan jarak sedekat ~1 derajat busur. Dari Indonesia belahan selatan Bintang Kutub sudah sulit/tidak bisa terlihat. Sementara dari Indonesia belahan utara Bintang Kutub masih dapat terlihat.

Salah satu teori menarik menyangkut Bintang Kutub adalah kemungkinan besar pada masa pembuatan candi Borobudur Bintang Kutub masih terlihat. Apakah teori ini masuk akal?

Penelusuran awal menggunakan beberapa software peta langit populer dapat menjadi referensi awal. Software peta langit memiliki kemampuan untuk melakukan simulasi langit sebenarnya untuk setiap waktu yang dapat kita tentukan. Untuk memberikan gambaran sedekat mungkin software peta langit juga memasukkan perhitungan presesi dalam algoritmanya. Hal ini akan membantu kita dalam menyimulasikan keadaan langit pada zaman pembuatan candi Borobudur.

Candi borobudur berada pada koordinat 7.608 LS dan 110.2 BT dengan ketinggian 265 di atas permukaan laut. Pembangunanya dilakukan pada masa dinasti Sailendra (760-830 M) yang mendapat sokongan dari kerajaan Sriwijaya. Sailendra dalam bahasa Sansekerta berarti penguasa gunung. Pembangunan memakan waktu 75 tahun dan selesai pada masa pemerintahan Samaratungga tahun 825 M. Arsitek pembangunan Borobudur bernama Gunadharma.

Gambar di samping memperlihatkan simulasi langit menggunakan Starry Night. Lokasi pengamatan adalah daerah Borobudur ketinggian 265m dpl pada tanggal 7 Agustus 800 M, dengan proyeksi alt-az. Terlihat bahwa Polaris terbit pada jam 01:00 dan tenggelam jam 03:05 waktu lokal.

Gambar berikut menunjukkan simulasi dengan software The Sky. Polaris pada tanggal 19 Agustus 800 M, terbit pada 00:14 dan tenggelam 02:19 waktu lokal.

Menariknya, Polaris sudah terlihat untuk terakhir kalinya dari Borobudur pada tahun 850 M Seperti yang terlihat dari gambar di bawah.

Sementara saat ini Polaris tentu saja sudah jauh di bawah horizon Borobudur sehingga tidak bisa terlihat.

Simulasi menggunakan peta langit hanyalah upaya awal dari penelusuran kebenaran dari alignment ini. Tentu saja akan sangat sulit mengamati Polaris yang bermagnitudo 2 yang berada di horizon. Penelitian lebih lanjut harus memikirkan ekstingsi atmosfer, dan ketinggian horizon dari puncak Borobudur sehingga bisa diperoleh simulasi yang mendekati.

Pertanyaan lain yang mengganjal adalah kenapa harus menggunakan polaris yang telah bergeser sejauh enam derajat dari kutub utara benar? Jawaban sementara untuk pertanyaan ini adalah karena jika kita menghadap ke arah polaris yang sedang transit maka kita sekaligus menghadap ke arah utara benar?

Jika Borobudur memang dibangun dengan alignment terhadap polaris maka seharusnya bangsa Mataram kuno memiliki pengukuran dan perhitungan yang sangat maju terhadap pergerakan dan posisi benda langit. Tentu kita berharap ilmu pengukuran dan perhitungan seperti ini diturunkan ke generasi selanjutnya dan mungkinkah ada pencatatan mengenai gerhana, supernova, komet selama masa tersebut? Untuk kasus supernova, hingga saat ini disepakati supernova terjadi 2 kali per abad di Bima Sakti. Pencatatan dari pengamat dari belahan bumi utara memperlihatkan angka yang jauh lebih sedikit dari yang diprediksi. Tentunya kita berharap ada pencatatan supernova untuk langit belahan selatan dari wilayah Indonesia yang dapat mengamati bola langit yang lebih luas. Mungkinkah penerus Mataram kuno memiliki pencatatan mengenai hal ini? Jika ada maka bisa saja pengetahuan klasik bisa memberi kontribusi bagi penelitian supernova di Bima Sakti.

Thursday, April 10, 2008

Kenapa Langit Berwarna Biru?

Mungkin jawaban pertama yang muncul di benak sebagian kita adalah karena pantulan dari laut. Laut berwarna biru dan menguasai 70 persen permukaan Bumi, warna biru laut akan dipantulkan ke langit sehingga langit berwarna biru. Tapi, jawaban ini masih meleset.


Cahaya yang kita terima di Bumi di siang hari berasal dari Matahari. Cahaya dari Matahari berwarna putih. Jika kita uraikan, cahaya putih ini menggunakan prisma maka kita akan mendapatkan warna pelangi. Ini menunjukkan cahaya putih Matahari terususun dari warna-warna.

Nah, cahaya putih matahari sebelum mencapai permukaan Bumi terlebih dahulu harus berhadapan dengan partikel-partikel yang menyusun atmosfer Bumi. Oleh atmosfer Bumi, cahaya biru akan dihamburkan ke segala arah. Cahaya lain sebenarnya juga mengalami penghamburan, namun hamburannya lebih sedikit sehingga intensitasnya dikalahkan oleh hamburan cahaya biru. Hamburan cahaya biru ini lah yang kita amati sebagai langit yang berwarna biru.

Percobaan sederhana untuk menyimulasikan penghamburan ini dapat kita lakukan dengan segelas sirup dan senter. Buatlah ramuan sirup, misalnya sirup jeruk yang berwarna kuning di wadah yang transparan, lalu bawa ke tempat gelap. Di tempat gelap, nyalakan senter dan arahkan ke arah wadah transparan tersebut. Jika kita perhatikan, cahaya senter yang berwarna putih akan terpendar menjadi warna kuning ketika melewati cairan sirup. Warna kekuningan oleh cairan sirup adalah hasil pemendaran cahaya senter oleh partikel-partikel sirup.

Hamburan cahaya seperti pada percobaan diatas juga pada atmosfer disebut hamburan Rayleigh.

Monday, September 10, 2007

Tantangan Dalam Pengamatan Bulan

Penampakan Bulan di siang hari diteliti secara mendalam oleh Andre Danjon, seorang Perancis, pada 1930. Danjon menemukan bahwa Bulan tidak dapat kita saksikan pada tengah hari apabila Bulan berada pada jarak 30 derajat dari Matahari. Angka 30 derajat ini berkaitan dengan jarak sudut Bulan-Matahari untuk umur Bulan 2.5 semenjak Bulan baru dan 2.5 hari sebelum Bulan baru.

Pada prakteknya, terdapat faktor kecemerlangan langit (berhubungan dengan jumlah hamburan cahaya matahari oleh atmosfer) dapat memperbesar nilai batas yang ditentukan oleh Danjon. Udara yang beraerosol misalnya, akan membuat langit menjadi lebih terang, sehingga limit Danjon akan membesar.

Bagaimana dengan pengamatan bulan tua atau bulan muda yang tentunya berkaitan dengan penentuan awal bulan baru penanggalan hijriyah? Danjon menyebutkan bahwa tidak mungkin untuk melihat Bulan ketika jarak sudut Matahari-Bulan kecil dari 7 derajat busur ketika Matahari terbenam.

Satu hal lagi yang harus kita sadari dari pengamatan Bulan adalah; Bulan memiliki permukaan yang tidak rata, terdiri dari lembah dan pegunungan. Saat Bulan dekat dengan Matahari maka cahaya Matahari yang jatuh dipermukaan Bulan akan diterima oleh lereng gunung Bulan yang menghadap Matahari, dan bagain lereng gunung yang menghadap ke Bumi akan dikenai bayangan gunung itu sendiri. Karena efek ini maka kita tidak bisa mengharapkan kecerlangan Bulan yang cukup besar saat Bulan baru, begitu pula dengan sabit Bulan yang akan nampak lebih sempit ketimbang nilai idealnya jika permukaan Bulan rata sempurna. Hal ini yang menjelaskan kenapa Bulan tidak dapat diamati ketika Bulan berada pada jarak maksimumnya dari ekliptika yaitu pada jarak sudut 5 derajat busur.

sebagian permukaan Bulan, direkam dengan CCD

Berikutnya, Danjon juga mengatakan bahwa ujung terjauh sabit Bulan tidak akan terlihat hingga Bulan berada jauh dari 40 derajat busur dari Matahari. Dengan kata lengkung sabit Bulan tidak akan terlihat sempurna hingga Bulan berumur 3 hingga empat hari.

Bagaimana dengan kecerlangan Bulan? Mungkin kita berpikir bahwa kecerlangan Bulan-setengah adlaah setengah kali kecerlangan Bulan purnama. Anggapan ini salah. Kecerlangan Bulan-setengah (bulan berumur 14.75 hari) ternyata hanya 8.5% kecerlangan Bulan purnama. Untuk Bulan berumur 5 hari kecerlangannya akan menurun drastis hingga hanya 0.5% kecerlangan Bulan purnama.

Dalam mengamati hilal yang menjadi perhatian adalah jarak Bulan dari Matahari dan ketinggian Bulan dari Horizon. Faktor eksternal yang tidak kalah penting adalah masalah kecerlangan langit. Langit senja akan tampak hampir sama terangnya dengan cahaya hilal. Cahaya hilal sendiri mengalami distorsi karena diserap atau dihamburkan oleh partikel-partikel yang ada di atmosfer.

Saturday, June 16, 2007

Mengenal Meteor

Jika kita mengamati langit malam pada waktu yang lama maka pada kesempatan yang tidak diduga-duga kita akan mendapati garis cahaya yang terbentuk dengan cepat kemudian menghilang. Biasanya cahaya ini berwarna kuning keemasan atau putih. Lintasan cahaya terang ini biasa disebut sebagai meteor.

Bagi orang kota, menyaksikan bintang jatuh adalah pengalaman spiritual tersendiri. Hal ini dapat dimaklumi karena cahaya lampu kota telah memakan sebagian besar keindahan langit yang berasal dari cahaya benda langit sehingga memandang langit menjadi hal yang langka.

Hal ini pula yang menyebabkan beberapa orang berhalusinasi melihat benda terbang yang tidak dikenal, lalu mengklaimnya sebagai penampakan kendaraan makhluk luar angkasa. Sebenarnya tidak demikian.

Meteor, yang di Indonesia sering disebut sebagai bintang jatuh, adalah lintasan cahaya hasil gesekan benda langit yang tergesek atmosfer Bumi. Seperti yang kita ketahui bahwa di luar angkasa terdapat banyak sekali benda yang terbang bebas dengan ukuran sebesar debu hingga beberapa meter, kita sebut mereka meteoroit. Meteorit pada suatu kesempatan dapat tertarik oleh gravitasi Bumi sehingga jatuh ke Bumi. Sebelum sampai di permukaan Bumi, meteroit harus berhadapan dengan atmosfer Bumi yang sangat tebal (mencapai 500 kilometer). Atmosfer akan menghambat laju meteoroit dengan menggesek permukaan meteorit. Gosokan ini sedemikian hebatnya sehingga permukaan meteorit menjadi panas lalu menguap dengan cepat dan menghasilkan cahaya. Cahaya ini terbentuk sesuai lintasan jatuh meteorit. Lintasan cahaya tersebut kita kenal sebagai meteor.

Meteor terjadi ketika meteoroit tergesek oleh atmosfer Bumi

Meteor biasanya terjadi pada ketinggian 80 hingga 100 km. Namun sebgian besar cahaya tersebut terjadi pada ketinggian 95 km. Meteor jatuh dengan kecepatan mencapai 72 km/detik. Namun kecil sekali kemungkinan bagi meteor jatuh ke Bumi.

Beruntung sekali terdapat kesempatan-kesempatan istimewa untuk menikmati meteor dalam jumlah yang banyak dalam satu malam. Peristiwa terlihatnya banyak meteor dalam satu malam kita kenal sebagai hujan meteor.

Hujan meteor terjadi pada daerah-daerah tertentu pada langit malam. Jika terjadi maka kita akan melihat kilatan cahaya yang muncul secara intensif dan menyebar seolah-olah berasal dari satu titik tertentu. Titik tertentu ini kita kenal sebagai radian, bisa diartikan sebagai arah asal.

Penamaan peristiwa hujan meteor sesuai dengan rasi dimana radian berada kemudian diberi akhiran "id".

Uniknya, fenomena hujan meteor memiliki keterkaitan dengan komet. Beberapa komet melintas dekat sekali dengan orbit Bumi. Jejak lintasan komet akan diisi oleh debu yang berasal dari komet itu sendiri. Debu-debu sisa komet inilah yang kemudian melayang-layang di orbit Bumi. Ketika Bumi melintas pada daerah yang berdebu maka Bumi akan menarik debu tersebut ke dalam atmosfernya dan terciptalah meteor.

Contoh radian pada hujan meteor Perseid (sumber foto: www.astronomy.com)

Fenomena radian bisa dijelaskan sebagai ilusi geometri. Sebenarnya meteorit-meteorit (yang pada kasus hujan meteor adalah debu sisa komet) jatuh dalam posisi yang saling sejajar. Namun karena komet berasal dari daerah yang lebih jauh dari pengamat dan jatuh mendekati pengamat maka formasi sejajar itu terlihat menyebar. Ilusi semacam ini bisa dilihat juga pada lintasan rel kereta api. Semakin jauh rel kereta api dari mata maka rel akan terlihat saling mendekat. Padahal keadaan sebenarnya rel kereta tersebut adalah saling sejajar.

Berikut nama-nama fenomena hujan meteor beserta waktu kejadiannya:

NAMA | WAKTU | KOMET
Andromedid | Pertengahan November | Biela
Delta Aquarid | Akhir Juli | Tidak diketahui
Draconid | Pertengahan Oktober | Giacobini-Zinner
Eta Aquarid | Awal Mei | Halley
Geminid | Pertengahan Desember | Tidak diketahui
Leonid | Pertengahan November | Temple
Lyrid | Pertengahan April | 1861 I
Orionid | Pertengahan Oktober | Halley
Perseid | Pertengahan Augustus | 1862 III
Taurid | Awal November | Encke
Ursid | Pertengahan Desember | Tuttle

Pengamatan hujan meteor baik dilakukan dini hari menjelang pagi. Alasannya berhubungan dengan gerak Bumi. Bumi mengelilingi Matahari dengan arah searah jarum jam. Pada saat yang bersamaan Bumi juga berputar pada sumbunya dengan arah dari barat ke timur. Revolusi Bumi menyapu debu sisa komet, pada saat bersamaan rotasi menambah efek sapuan sehingga menjadi lebih cepat. Dengan gerak khas seperti ini maka fenomena hujan meteor akan terlihat memuncak pada penghujung malam -yakni pengamat persis berada pada daerah dimana debu sisa komet tersapu atmosfer akibat gerak revolusi dan gerak rotasi Bumi.

Puncak hujan meteor terjadi setelah lewat dini hari menjelang pagi

Ada beberapa tips untuk mengamati hujan meteor. Tips ini sekaligus ingin menghapus beberapa anggapan yang salah mengenai teknik pengamatan meteor.
1. Jangan menggunakan teleskop, gunakan mata anda. Fenomena meteor terjadi dalam waktu singkat dan pada daerah yang acak. Karena itu menggunakan teleskop akan mengurangi medan pandang yang dapat anda nikmati dan menghambat kemampuan anda untuk berpindah dari daerah langit yang satu ke daerah langit yang lain.
2. Berkonsentrasilah pada daerah langit tertentu, tatap untuk waktu yang cukup lama. Dengan berkonsentrasi dan bersabar maka peluang anda untuk memergoki hujan meteor akan lebih besar. Utamakan untuk melihat pada daerah sekitar radian.
3. Posisi terbaik untuk melakukan pengamatan meteor adalah berbaring atau duduk bersandar.
4. Catatlah jumlah meteor yang anda lihat, waktu pengamatan, rentang waktu pengamatan, dan daerah langit yang anda lihat. Kemudian laporkan hasil pengamatan anda kepada asosiasi pengamatan meteor. Dengan begini maka anda telah berkontribusi dalam upaya pencacahan meteor.
5. Untuk menikmati meteor yang lebih banyak maka lakukan pengamatan pada puncak hujan meteor. Waktu puncak ini dapat anda ikuti pada situs-situs astronomi.
6. Selama pengamatan gunakan jaket tebal dan hangatkan diri anda dengan secangkir kopi panas. Mengamat bersama teman atau pasangan adalah ide yang baik.

Selamat mengamat!

Friday, June 15, 2007

Target pengamatan: objek-objek Messier

Charles Messier (1730 - 1817) adalah astronom Perancis yang bekerja sebagai pemburu komet. Dalam upaya mempermudah usahanya, Messier membuat daftar benda langit eksotik yang nampak menyerupai komet. Tujuan membuat daftar ini adalah agar ia dan rekan-rekannya dapat dengan mudah membedakan objek mirip komet ini dengan komet sebenarnya. Namun daftar yang ia buat (disebut Katalog Messier), di kemudian hari lebih dikenal sebagai daftar objek-objek menarik yang ada di langit.

Charles Messier (sumber foto: Wikipedia)

Messier mencatat 109 (sebagian orang mengatakan 110) objek menarik dalam katalog tersebut. Penamaan objek-objek pada katalog ini dimulai dengan huruf M lalu diikuti dengan angka sesuai susunan objek langit pada katalog.

Karena mengamat dari belahan bumi utara maka wajar saja jika objek-objek Messier kebanyakan berada di langit utara. Untuk wilayah khatulistiwa seperti Indonesia, kita dapat mengamati hampir keseluruhan objek-objek Messier.

Objek-objek Messier terdiri dari sisa supernova, gugus bola, gugus terbuka, nebula, nebula planet, awan bintang, galaksi spiral, galaksi elips, galaksi berpalang, galaksi tak beraturan.

Sayangnya tidak semua benda langit menarik yang dikatalogkan oleh Messier. Beberapa gugus bintang dan nebula yang terang dilewatkan begitu saja. Alasan untuk tidak mencantumkan ini bisa jadi karena benda tersebut tidak mengganggu proses pengidentifikasian komet, atau karena Messier tidak tertarik dengan objek terang tersebut.

Objek-objek Messier (sumber: http://www.astrogranada.org/html/07_efemerides/10_messier_1.htm)

Objek-objek Messier tersebut adalah:
Sisa Supernova : M1,
Gugus Bola : M2, M3, M4, M5, M9, M10, M12, M13, M14, M15, M19, M22, M28, M30, M53, M54, M55, M56, M62, M68, M69, M70, M71, M72, M75, M79, M80, M92, M107,
Gugus Terbuka : M6, M7, M11, M18, M21, M23, M25, M26, M29, M34, M35, M36, M37, M38, M39, M44, M45, M46, M47, M48, M50, M52, M67,
Nebula : M16, M17, M20, M42, M43, M78,
Nebula Planet : M27, M57, M76, M97,
Awan Bintang : M24
Galaksi Spiral : M31, M33, M51, M58, M61, M63, M64, M65, M66, M74, M77, M81, M83, M84, M85, M88, M90, M98, M99, M100, M101, M104, M108, M109,
Galaksi Elips : M59, M60, M86, M87, M89, M105,
Galaksi Berpalang : M95,
Galaksi Tak Beraturan : M82,

Objek-objek Messier memiliki kecerlangan yang bervariasi dari 4 magnitudo hingga 10 magnitudo. Karena itu objek-objek Messier sangat mudah diamati bahkan dengan binokuler sekalipun. Di Amerika Serikat terkenal istilah "Messier Marathon". Istilah ini ditujukan bagi kegiatan astronom amatir yang dalam satu malam mencoba untuk mencari sebanyak mungkin objek-objek Messier. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersama-sama sebagai bagian dari aktivitas kumpul-kumpul akbar komunitas astronom amatir.

Objek Messier pada daerah pusat Galaksi (klik untuk memperbesar)

Objek Messier pada daerah Virgo (klik untuk memperbesar)

Di Indonesia, sebagai negara khatulistiwa, potensi untuk bisa mengamati objek khas Messier ini sangat besar. Beberapa rasi yang kaya dengan objek Messier adalah Sagitarius, Scorpius, Virgo. Beruntungnya rasi-rasi ini dapat diamati pada musim kering.

Untuk mengenali objek-objek Messier silahkan mengunjungi halaman pencarian objek-objek Messier di situs Astronomy Picture of the Day.

Begitu populernya objek-objek Messier sehingga pada software peta langit manapun selalu dapat dijumpai Katalog Messier. Selamat mengamati objek-objek Messier.

Saturday, May 12, 2007

Transit Ganymede

Kemarin malam, 11 Mei 2007, Ganymede melintas di depan Jupiter. Peristiwa transit ini sangat spetakuler karena sebelum transit bayangan Ganymede sempat jatuh di permukaan Jupiter. Selain itu terdapat suatu momen ketika kita bisa menikmati Ganymede, bayangan Ganymede, dan Bintik Merah Besar dalam waktu bersamaan.

Peristiwa langka ini dimulai sekira setengah jam sebelum pukul 24.00 WIB dan berlanjut hingga pukul 03.32 WIB.


Ensiklo

Jupiter adalah planet terbesar di tatasurya, radiusnya 143.000 km. Terdapat pita terang-gelap pada atmosfernya. Kandungan Jupiter yang berupa amoniak, sulfur, fosfor, dan beberapa elemen lain, membentuk struktur pita terang-gelap. Sebagian besar Jupiter berupa gas. Ilmuwan meyakini Jupiter memiliki inti yang padat, terdiri dari magnesium, besi, dan silikon. Massa inti Jupiter diperkirakan 15 kali massa Bumi. Di sekeliling inti Jupiter terdapat lapisan hidrogen metalik (yaitu hidrogen dalam fasa padat). Jupiter memancarkan cahaya dua kali dibandingkan cahaya yang diterimanya dari matahari. Fitur terkenal dari Jupiter adalah Bintik Merah Besar.

Bintik Merah Besar merupakan aktivitas badai dahsyat yang berlangsung (setidaknya) ratusan tahun. Ukuran Bintik Merah Besar mencapai tiga kali diamater Bumi.

Ganymede adalah satelit dengan radius 5260 km atau 80% radius Bumi. Periode orbit Ganymede mengelilingi Jupiter adalah sekitar 7 hari.

Transit adalah peristiwa melintasnya suatu objek langit di hadapan objek langit lainnya. Salah satu contoh transit yang paling populer adalah gerhana matahari. Gerhana matahari terjadi ketika bulan melintas di depan piringan matahari.

Planet Terang di Bulan Mei

Bulan mei ini kita bisa menikmati pemandangan menarik. Tiga planet terang menempel dengan cantik di langit malam.

Venus sedang mengalami fase setengah, karenanya Venus sangat cemerlang. Mengunakan teleskop dengan perbesaran minimum kita masih belum bisa melihat fase setengah Venus. Coba atur perbesaran teleskop anda hingga sekitar 400 kali supaya fase setengah bisa teramati. Venus terlihat di langit barat semenjak matahari terbenam hingga sekira pukul 20.35 WIB.

Jika anda ingin mencoba berastrofotografi silahkan mencoba membidik Venus dan M35 dalam frame yang sama. Jarak kedua
objek ini sekitar 3 derajat. Karena itu gunakan teleskop dengan medan pandang luas. Tentunya jika kita harus melakukan perlakuan khusus supaya Venus dan M35 bisa akur dalam frame yang sama. Usul saya adalah dengan mengambil satu frame dengan eksposur singkat. Tujuan pengambilan frame dengan eksposur singkat ini adalah agar Venus bisa terungkap baik. Lalu ambil lagi satu frame dengan eksposur panjang namun dengan menggeser medan pandang sehingga Venus tidak masuk ke dalam frame. Tujuan dari pengambilan frame bereksposur panjang ini adalah agar kita dapat menyingkap M35. Selanjutnya kita bisa menggabungkan kedua frame tersebut (mozaik).

Berikutnya adalah planet Saturnus. Saturnus berada di sekitar 40 derajat ke arah zenit dari Venus. Saturnus saat ini memiliki magnitudo sebesar 0.5 sehingga dengan mudah kita kenali.

Ketika Venus akan terbenam, di sisi timur si raksasa Jupiter tengah bersiap untuk naik ke Zenit. Jupiter seakan-akan ingin menggantikan peran Venus sebagai penguasa malam, magnitudo Jupiter adalah -2.5. Jupiter akan transit di meridian sekira pukul 1.42 WIB. Manfaatkan juga kesempatan ini untuk mengamati bintik merah besar yang ada di atmosfer Jupiter. Tabel kemunculan bintik merah besar bisa anda dapatkan di situs skytonight.com.

Monday, March 26, 2007

Menentukan Arah

A. Metoda Bayangan
Untuk mempraktekkan metoda ini carilah sebuah tongkat sepanjang 1 meter. Metoda ini sangat mudah dan akurat, terdapat beberapa langkah:
1. Tancapkan tongkat pada permukaan tanah. Tandai bayangan ujung tonkat. Jika matahari berada di timur maka bayangan akan jatuh di barat, dan sebaliknya.
2. Tunggu beberapa saat, 20 hingga 30 menit, bayangan akan berubah, kembali tandai bayangan ujung tongkat.
3. Hubungkan dua titik yang telah kita tandai sebelumnya dengan sebuah garis lurus, maka garis tersebut adalah garis timur-barat.
4. Jika anda berdiri dengan arah barat ada di kanan maka anda menghadap ke selatan, dan sebaliknya, jika arah barat ada di kanan maka anda menghadap ke utara.
5. Untuk menentukan arah yang lebih akurat buatlah sebuah garis baru yang tegak lurus garis timur-barat, garis baru tersebut adalah garis utara-selatan benar.

Metoda bayangan bisa digunakan di daerah manapun di bumi selagi kita dapat melihat matahari. Metoda ini juga sangat akurat dalam menentukan posisi utara-selatan benar.

Metoda bayangan jenis lain juga bisa dilakukan, masih menggunakan tongkat tetapi kita melakukan percobaannya sepanjang pagi hingga sore hari. Caranya adalah sebagai berikut:
1. Pada pagi hari amati ujung bayangan tongkat, lalu tandai.
2. Buat sebuah lingkaran penuh yang berpusat pada titik tertancapnya tongkat, dengan radius hingga ujung bayangan yang kita tandai.
3. Kembalilah pada sore hari, amati saat di mana ujung bayangan tongkat kembali menyentuh lingkaran yang telah kita buat sebelumnya.
4. Hubungkan dua titik yang ada pada lingkaran dengan sebuah garis lurus, maka anda telah berhasil membuat arah timur-barat.
5. Selanjutnya buat garis baru yang tegak lurus garis timur-barat, maka anda telah berhasil membuat garis selatan-utara.


B. Metoda Jam Tangan

Kita juga dapat menggunakan jam tangan analog untuk menentukan arah. Cara ini cukup mudah dan cukup akurat. Metda ini diterapkan secdara berbeda untuk belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Berikut cara menentukan arah untuk belahan bumi selatan:
1. Arahkan angka 12 pada jam tangan anda ke arah matahari.
2. Amati busur terpendek yang dibentuk dari angka dua belas dan jarum pendek, kemudian bagilah busur tersebut menjadi dua bagian yang sama besar. Garis yang membagi busur adalah garis hubung selatan-utara.

Untuk belahan bumi utara gunakan cara berikut:
1. Arahkan jarum pendek ke arah matahari.
2. Amati busur terpendek yang dibentuk oleh jarum pendek dan angka dua belas, kemudian bagi busur tersebut menjadi dua sama besar. garis yang membagi busur tersebut akan menunjukkan arah selatan-utara.
Sedikit koreksi untuk daerah yang menerapkan Daylight Saving Time, angka satu sebagai pengganti angka dua belas.


C. Metoda Bintang

Beberapa bintang membentuk pola tertentu yang dapat kita tandai sebagai penunjuk arah. Penduduk belahan utara biasanya menggunakan bintang kutub, yang posisinya hampir berhimpit dengan sumbu utara langit, sebagai penunjuk arah utara.

Di daerah selatan biasanya digunakan rasi Crux sebagai penunjuk arah selatan. Crux sangat mudah dikenali yaitu empat bintang terang yang membentuk konfigurasi salib. Gunakan sumbu terpanjang rasi tersebut kemudian tarik garis lurus ke arah "bawah" salib, bayangkan sebuah titik yang berjarak lima kali sumbu panjang Crux. Selanjutnya dari titik imajiner tersebut tariklah garis yang tegak lurus horizon, maka perpotongan garis tersebut dengan horizon adalah arah selatan.

Monday, March 5, 2007

Pencatatan Itu Penting

Gerhana Bulan Total 4 Maret lalu tidak berhasil saya amati. Subuh ketika gerhana langit tertutup awan. Padahal saya sudah standby semalaman di kontrakan.

Tanpa teleskop dan kamera tidak membuat saya berkecil hati mengamat gerhana. Banyak aktivitas lain yang bisa dilakukan selama gerhana berlangsung. Di dunia astronomi alat bukanlah hal yang utama, melainkan pencatatan (recording) yang utama. Dengan metoda pencatatan seperti maka kita dapat mempelajari fenomena langit.

Masa pencatatan seperti telah dimulai semenjak zaman awal sejarah. Ketika terjadi peristiwa gerhana, kemunculoan bintang baru, okultasi planet oleh bulan, dll., oleh manusia yang hidup masa itu pada masa itu dilakukanlah pencatatan, salah satumedia rekaman adalah lukisan di dinding-dinding gua.

Tradisi pencatatan ini berlanjut ke zaman kejayaan astronomi islam. Pada waktu itu dilakukan beberapa pencatatan fenomena langit, pemetaan dll. Pada saat yang bersamaan astronom Cina mencatat peristiwa supernova 1054 M. Berkat pencatatan inilah kita berhasil melacak keberadaan supernova yang tergolong muda ini.

Memasuki zaman kejayaan Eropa kita mengenal Tycho Brahe yang mencatat kejadian supernova, juga Kepler yang menemukan supernova. Galileo mencatat pergerakan satelit-satelit Jupiter, tonjolan pada planet Saturnus, gerakan bintik matahari, dan banyak fenomena lainnya. Berkat bukti catatan tersebut maka kita dapat mengumpulkan berbagai hipotesa untuk menjelaskan fenomena yang terjadi. Pada zaman itu jam mekanik telah ditemukan sehingga sangat membantu memberi informasi waktu kejadian.

Sebelum era plat fotografi pencatatan dilakukan dengan menggoreskan sketsa pada kertas. Dengan sketsa yang akurat (skala yang baik, pencatatan waktu) Galileo berani menyimpulkan berbagai hipotesis yang mengguncang khazanah ilmu pengetahuan saat itu.

Astronomi tidak melulu masalah alat. Melihat ke belakang maka kita dapat menyadari bahwa yang paling penting dalam astronomi adalah pencatatan. Percuma rasanya apabila kita bangun di tengah malam yang dingin kemudian memasang teleskop 30 cm dan kemudian hanya menatapnya. Kita bisa melakukan yang lebih dari itu, pencatatan. Coba sekali-sekali sket permukaan bulan, bintik matahari, satelit Galilean, atau titik-titik cahaya pada wilayah langit tertentu. Siapa tahu anda menemukan sebuah komet baru, asteroid baru, atau UFO :). Dan ketika anda ditanya oleh orang lain anda dapat menyodorkan bukti berupa pencatatan yang akurat. Kemudian catatan ini bisa dibandingkan dengan catatan orang lain yang mengamati peristiwa yang sama.

Jadi, mari lakukan pencatatan, sesederhana apapun itu. Biasakan dalam setiap pengamatan kita memiliki buku log. Selamat mengamat!

Thursday, February 15, 2007

Gerhana Bulan Total, pagi 4 Maret 2007

Gerhana Bulan kembali hadir di Indonesia. Kali ini penampakannya lebih baik dibandingkan penampakan gerhana bulan September tahun lalu. Sayangnya momen gerhana total terjadi persis ketika bulan tenggelam di horizon barat. Namun untuk wilayah Indonesia bagian barat masih agak beruntung menyaksikan momen gerhana total, walaupun tidak sampai selesai. Pengamatan gerhana bulan total juga -mungkin, tetapi semoga tidak..- terkendala dengan kondisi cuaca yang agak mendung di beberapa wilayah Indonesia.

Tempat pengamatan terbaik adalah Eropa, Afrika, dan Jazirah Arab. Di Indonesia, wilayah optimal pengamatan adalah Nangro Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Riau.

Momen ke momen untuk Indonesia
Penumbra masuk ke piringan bulan pada pukul 03.18 WIB. Pada saat ini kita masih belum melihat ada sesuatu yang signifikan pada cahaya bulan. Wilayah Papua, Maluku, dan sekitarnya sudah tidak bisa mengamat pada pertengahan momen bulan ada di penumbra.

Kontak pertama umbra akan terjadi pada pukul 04.30 WIB. Akan terlihat ada bayangan tipis yang mulai memasuki piringan bulan. Bulan akan semakin terlihat gelap hingga saat total terjadi. Peristiwa ini masih bisa disaksikan di wilayah Sulawesi, Bali, Kalimantan dan Jawa.

Momen total akan terlihat pukul 05.44 WIB. Daerah yang masih bisa mengamati perstiwa ini adalah wilayah Sumatera bagian tengah (termasuk Bengkulu) hingga Aceh.

Puncak gerhana akan terjadi pukul 06.20 WIB. Aceh dan Sumatera Utara masih mungkin untuk mengamati peristiwa total ini, sementara cahaya fajar sudah semakin kentara.

Bulan akan meninggalkan Umbra pukul 08.11 WIB dan gerhana berakhir pukul 09.23 WIB.

Cara mengamat
Bagaimana cara mengamati gerhana bulan? Cara yang paling nyaman memang dengan teleskop. Teleskop berukuran 5 hingga 10 centimeter sudah cukup nyaman. Peralatan lain yang juga sangat membantu adalah binokuler (teropong medan)! Jangan ragu-ragu mengarahkan binokuler anda ke arah bulan, coba perhatikan wilayah umbra yang merangkak pada permukaan bulan. Cara lain adalah dengan mata telanjang, walaupun efek yang terlihat tidak begitu sensasional, tetapi anda dapat membedakan penampakan; sebelum gerhana, ketika bulan masuk penumbra, bulan masuk umbra, dan saat total.

Memotret gerhana
Karena gerhana kali ini terjadi ketika bulan akan tenggelam, maka alangkah baiknya jika dilakukan pemotretan dengan sudut lebar sambil menangkap foreground yang menarik. Bagi yang memiliki lensa tele dengan fokus sangat panjang, pemotretan sebaiknya dilakukan dalam sequences dengan periode tertentu sehingga hasilnya dapat disusun dalam bentuk mozaik yang baik. Eksposur yang baik untuk memotret gerhana bulan total bervariasi dari 1/100 detik hingga 1/4 detik. Silahkan memvariasikan eksposur dan harga ISO sesuai dengan keinginan. Tentunya kita menginginkan kontras yang cukup untuk bayangan bumi dan cahaya permukaan bulan.

Gerhana bulan di Indonesia
September lalu gerhana bulan yang terjadi adalah gerhana bulan umbra sebagian. Ketika itu kita harus menengadah untuk melihat gerhana karena bulan nyaris di dekat zenith ketika umbra mulai menyentuh piringan bulan.

Gerhana Bulan Total selanjutnya akan menghampiri Indonesia pada 28 Agustus 2007. Saat itu gerhana akan terlihat di horizon timur ketika bulan baru saja terbit.

Wednesday, February 14, 2007

Pengamatan Hilal Berbasis CCD

Pemerintah Indonesia menggunakan metode pengamatan bulan sabit muda (Rukyatul Hilal) untuk menentukan awal bulan-bulan Hijriyah. Rukyatul Hilal pada prakteknya digunakan untuk menentukan awal bulan selain Ramadhan, Syawal dan Zuhijjah. Dengan metode ini, pemerintah sekaligus menendang metode perhitungan (Hisab) yang lazim digunakan Muhammadiyah sebagai penentu keputusan.

Perbedaan teknik pengambilan keputusan ini menurut sebagian besar praktisi penanggalan Hijriyah disebabkan belum adanya kesamaan kriteria hilal. Permasalahan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan membuat konsensus bersama yang diinisiasi oleh pemerintah. Namun, dari sisi pemerintah, belum ada keseriusan dalam meningkatkan kemampuan Rukyatul Hilal dan Hisab.

Dari perspektif Hisab, perhitungan yang lebih teliti sebenarnya sudah bisa dilakukan dengan komputer. Sebagai contoh, sekarang ini telah tersedia peta langit lengkap dengan katalog yang dapat mensimulasi keadaaan langit ketika terjadi konjungsi bulan. Ketelitiannya dapat diacungi jempol, setidaknya rentang kesalahannya masih dapat ditolerir yaitu melenceng maksimal 1 detik busur. Pemerintah bisa saja menggunakan software ini peta langit ini. Jika "sungkan" menggunakan peta langit buatan orang lain, pemerintah bisa membuat software sendiri dengan bertolak dari pengamatan rutin secara tekun dan teliti selama puluhan tahun lalu. Kemungkinan terakhir rasanya seperti mencoba menemukan roda (reinventing the wheel).

Rukyat, sebagai metode yang digunakan pemerintah, lebih parah lagi. Teknik instrumentasi astronomi berkembang pesat namun pemerintah masih menggunakan peralatan sederhana seperti theodolit. Pemerintah seharusnya mulai beralih menggunakan teleskop yang ditemukan 400 tahun lalu. Alat bantu ini tidak saja memperbesar bayangan hilal namun bisa diatur agar meningkatkan kejernihan dan kekontrasan gambar terhadap cahaya langit di latar depan.

Dari sekian banyak lokasi pengamatan hilal di Indonesia, masih sedikit pengamat hilal yang memakai teleskop. Menurut seorang dosen astronomi, pengamat enggan memakai teleskop karena tidak bisa mengarahkan teleskop ke arah hilal!


Bulan dan Venus pada siang hari
sumber: http://antwrp.gsfc.nasa.gov/apod/ap061030.html

Hilal merupakan sabit bulan paling tipis yang dapat diamati manusia di permukaan bumi. Cahaya dari sabit bulan berkompetisi dengan langit sore yang terang. Pengamat, yang secara psikologis sangat menantikan hilal, sering bersugesti melihat hilal. Padahal kenyataannya ia sedang melihat lampu nelayan atau planet Venus.

Karena itu, saya dan teman-teman bersepakat untuk mengimplementasikan sebuah sistem pengamatan hilal berbasis kamera CCD. Prinsipnya, pengamatan sabit bulan muda dilakukan menggunakan teleskop. Selanjutnya, pada ujung teleskop diletakkan kamera CCD. Penempatan kamera CCD ini agar pengamat tak perlu lagi menempelkan mata ke teropong.

Kamera CCD merekam bayangan bulan sebagai berkas gambar digital yang disimpan di hard disk. Berkas digital ini bisa diekstrak menggunakan algoritma pengolahan gambar sehingga penampakan hilal bisa terpisah jelas. Pengamat juga bisa melihat langsung gambar sabit bulan muda melalui monitor. Pun Quick Image Processing bisa dilakukan secara terpisah. Data pengamatan ini, hasil pemrosesan software atau olahan pengamat, segera diupload ke web melalui jaringan internet sehingga bisa dilihat publik. Pengamatan hilal menjadi lebih akurat dan cepat sekaligus menyadarkan masyarakat akan proses pengamatan hilal.

Selain dapat melihat hilal, data CCD dapat diproses di kemudian hari. Hasil pemrosesan ini bisa disumbangkan untuk data pengamatan hilal seluruh dunia. Saat ini jumlah data hilal dunia, khususnya dari bumi belahan selatan, memang masih sedikit. Indonesia akan memainkan peranan penting dalam penelitian hilal karena punya wilayah yang luas dan zona waktu yang lebar.

Implementasi ide ini akan berupa sebuah riset dengan periode Maret hingga Juni tahun ini. Untuk tempat pengamatan sejauh ini kami sepakat di Observatorium Bosscha dan Pelabuhan Ratu.

Sebagai akhir tulisan saya ini berikut ada file presentasi yang diberikan oleh teman saya, Evan, yang membahas mengenai kalender hijriyah. Bagi anda yang berminat, silakan mendownloadnya berkas berukuran ~900kb.

Wednesday, January 24, 2007

C/2006 P1

Komet merupakan benda bermassa kecil yang mengorbit matahari. Walaupun bermassa kecil komet bisa menjadi benda terbesar di tatasurya kita. Beberapa komet mengelilingi matahari secara periodik, sementara sebagian yang lain mendekati matahari untuk kemudian menjauh dan tidak kembali lagi.

Komet berasal dari bagain terluar dari tatasurya. Karena mendapat cahaya matahari yang sangat minim maka permukaaan komet amat dingin, permukaaan komet terdiri dari molekul-molekul yang berbentuk es padat. Ketika komet mendekati matahari maka radiasi matahari yang diterima permukaaan komet bertambah secara drastis. Kemudian pernukaan komet akan mulai menyublim. Angin matahari kemudian menerbangkan molekul-molekul di permukaaan komet yang apabila diamati dari bumi akan terlihat berupa ekor komet.

Inti komet tidaklah besar, yaitu sekitar belasan kilometer saja. Tetapi ekor komet jauh lebih besar. Ekor komet bisa membentang hingga 2 SA sehingga komet secara keseluruhan adalah benda terbesar di tatasurya kita.

Setiap tahunnya ditemukan 10-20 komet baru, namun tidak semuanya yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Komet dinamakan seusia dengan tahun penemuannya diikuti dengan huruf yang merepresentasikan tengah-bulan penemuan komet. Kita ambil contoh komet Mc Naught C/2006 P1, artinya komet ini ditemukan tahun 2006 sebagai komet pertama yang ditemukan pada paruh bulan kedua Agustus. Untuk komet periodik diberikan nama alias berupa nomor urut penemuan komet periodik diikuti dengan huruf "P". Komet Halley dikenal dengan nama 1P.

McNaught C/2006 P1
Pada tahun 2006 kita cukup dihebohkan dengan komet Schwassman-Wachmann (73P), kemudian komet Swan (C/2006 M4). Pada awal tahun 2007 kita kembali dihebohkan dengan komet c/2006 P1 yang diyakini magnitudo maksimumnya mencapai -5! Dengan nilai magnitudo seperti ini maka komet C/2006 P1 hanya kalah terang dibandingkan dengan komet Ikeya-Seki (1965) yang ketika mendekati perihelion memiliki magnitudo hingga -10!

Komet C/2006 P1 ditemukan oleh R. H. McNaught dari Siding Spring Observatory Australia menggunakan kamera CCD yang dicangkokkan pada teleskop Schmidt Uppsala 0.5 meter.

Beberapa hasil pemotretan menunjukkan komet ini bisa diamati pada siang hari. Contohnya adalah hasil yang didapatkan oleh Jogja Astronomy Club. Astronom Jogja ini berhasil merekam komet ini pada siang hari. Walaupun penampakannya berupa titik tetapi tetap saja pengamatan komet di siang bolong adalah pengalaman yang luar biasa.

Ketika diamati di sore hari, sesaat setelah matahari terbenam penampakan komet ini menjadi lebih dahsyat. Pengamatan semenjak tanggal 19 Januari 2007 hingga hari ini oleh astronom Australia menunjukkan hasil yang luar biasa, komet ini sangat lebar dengan bentuk ekor yang tersusun rapi bak daun nyiur. Penampakan sempurna seperti ini hanya bisa diamati oleh pengamat dari belahan selatan. Untuk pengamatan dari belahan utara cukup berbesar hati dengan melihat potongan ekor komet yang masih terjuntai di horizon barat (saking luasnya komet ini).

Pengamatan Komet

Pengamatan komet ini membutuhkan horizon yang bersih dan bebas dari hamburan sinar matahari. Karena itu waktu pengamatan yang paling baik adalah ketika matahari telah terbenam. tentu saja kita harus hati-hati mengarakan teropong ke arah komet ini jangan sampai mata kita terekspos cahaya matahari. Berikutnya kita bisa mengamati bagian ekor komet yang melengkung indah.

Galeri
Berikut beberapa foto komet yang saya ambil dari b
erbagai sumber di Internet:






Tuesday, September 5, 2006

Gerhana Bulan Sebagian, 7 September 2006

Pada 7 September ini para pecinta langit akan kembali disuguhi fenomena gerhana Bulan sebagian. Gerhana Bulan sebagian kali ini akan teramati di seluruh wilayah Indonesia.

Bulan memasuki penumbra pada pukul 23.42 WIB. Perubahan kecerlangan Bulan baru teramati ketika piringan Bulan tertutupi 70 persen penumbra. Peristiwa tertutupnya 70 persen permukaan Bulan oleh penumbra dimulai pada pukul 00.45 WIB.

Pada pukul 01.05 WIB Bulan mulai memasuki penumbra. Ini adalah bagian yang paling menarik untuk diamati. Pada saat ini kita akan melihat piringan Bulan tertutupi oleh bayangan yang lebih gelap. Kita tidak akan mendapatkan batas yang tegas antara daerah penumbra dengan daerah umbra. Hal ini disebabkan oleh keberadaaan atmosfer bumi yang merefraksikan cahaya matahari.

Bulan akan tertutupi umbra selama 1 jam 33 menit. Selanjutnya Bulan akan lepas dari penumbra pada pukul 04.00 WIB.

Bulan merupakan benda langit yang tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Sinar Bulan disebabkan oleh pemantulan cahaya matahari oleh permukaan Bulan. Ketika gerhana Bulan, cahaya matahari yang menuju ke Bulan dihalangi oleh bumi, akibatnya Bulan yang seharusnya berada dalam keadaan purnama tiba-tiba menjadi gelap.



Peristiwa gerhana Bulan tidak terjadi setiap Bulan dikarenakan bidang orbit Bulan mengalami inklinasi sebesar 5 derajat. Akibatnya Bulan acap kali melenceng menghindar dari bayangan bumi. Perhitungan geometri gerhana menyimpulkan posisi relatif Matahari-Bumi-Bulan pada saat gerhana akan berulang setiap 18 tahun. Siklus ini dinamakan siklus Saros.

Ada beberapa hal yang dapat kita amati ketika peristiwa gerhana Bulan terjadi. Dengan mata telanjang kita dapat menyaksikan permukaan Bulan menjadi kemerahan. Peristiwa ini disebabkan oleh terjadinya refraksi cahaya matahari oleh atmosfer bumi.

Jika kita memiliki teleskop maka kita dapat mengamati terjadinya okultasi bintang oleh piringan Bulan. Tentu saja peristiwa okultasi bintang sulit diamati jika Bulan dalam keadaan purnama. Bintang 81 Aquarii akan mengalami okultasi oleh Bulan selama peristiwa gerhana Bulan. Sayangnya peristiwa okultasi ini terjadi ketika Bulan ditutupi oleh penumbra, sehingga cahaya Bulan masih terlalu terang.

Wednesday, May 17, 2006

Komet Schwassmann-Wachmann

Apa menariknya melihat sebuah komet?

Akhir pekan yang lalu saya mengalami pengalaman pertama mengamati komet. Komet yang saya amati adalah komet Schwassmann-Wachmann alias 73P fragmen C. Komet 73P diketahui pecah menjadi banyak fragmen pada tahun 1995. Hingga saat ini diketahui komet 73P telah pecah menjadi puluhan fragmen, bahkan pada bulan April lalu komet 73P fragmen B pecah menjadi banyak fragmen!

Ah, biasa saa mengamati komet, mungkin kaena komet ini tidak terlalu cerlang buat dideteksi oleh mata dengan bantuan teleskop. Komet ini tampak sebagai objek membentang berwarna putih, ekor komet sendiri tampak kabur seperti kabut tipis.

Untunglah manusia telah menemukan detektor fotografik berupa CCD sehingga memanfaatkan efek fotolistrik kita dapat mengkuantisasi foton-foton dari sebuah objek, thanks to Einstein yang telah menemukan efek fotolistrik.

Saya bersama pengamat lainnya behasil merekam komet 73P fragmen C dan B. dari hasil pemotretan inilah saya jadi tahu kalau komet itu memang indah, jika diamati dengan detektor fotografi. Ekor komet terlihat jelas, sementara inti komet terlihat begitu cemerlang. Wah, coba bayangkan bagaimana terangnya komet Halley yang sempat mampir pada tahun 1986?

ok, pekerjaan saya mudah-mudahan tidak berhenti disini, data koet ini bisa diolah, tidak hanya dinikmati. hmmh..

berikut foto komet tersebut:

fragmen b

fragmen c
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More