Produk low end Celestron yang satu ini tidak diragukan lagi telah benar-benar tampak sebagai teleskop :). Harganya sekitar 3 hingga 3.5 juta rupiah. Paket lengkap teleskop ini adalah tabung teleskop, eyepiece, red dot finder, mounting ekuatorial, batang gerak halus, counterweight, piringan eyepiece, dan tripod. Sebagai bonus, disertakan software peta bintang the Sky dengan database yang terbatas.
Tabung teleskop bertipe newtonian karena itu untuk meneropong objek harus dilakukan dari samping teleskop dekat dengan moncong teleskop. Tipe ewtonian adalah salah satu tipe sitem optik yang banyak diminati oleh astronom amatir. Badan teleskop terasa cukup kokoh, balutan warna biru gelap khas Celestron menambah kesan tersebut. Dengan harga focal ratio sebesar 5, teleskop memiliki medan pandang yang super lebar. Jupiter tampak jelas dengan perbesaran 32.5 kali. Ketika saya arahkan ke M6 dan M7 saya mendapat bayangan objek yang jelas.
Tabung teleskop dipasangkan ke dovetail dengan dua buah cincin yang dapat dibongkar pasang dengan mudah. Mounting ekuatorial teleskop ini cukup kokoh. Penguncian dapat dilakukan dengan mudah. Untuk menggeser teleskop ketika terkunci dapat digunakan batang gerak halus.
Dibandingkan dengan tripod berbahan alumunium, tripod teleskop ini cerasa cukup baik dan kokoh. Dengan piringan eyepiece yang berada di antara kaki tripod kita dapat meletakkan eyepiece.
Merakitan teleskop ini adalah mudah dan cepat. Bahkan untuk pemula sekalipun tidak butuh waktu lebih dari 15 menit untuk menyelesaikan pemasangan. Sebelum melakukan pengamatan jangan lupa untuk menyesuaikan posisi alingment utara-selatan, dan menentukan lintang pengamatan. Jangan lupa pula untuk melakukan penyeimbangan teleskop dengan bantuan counterweight.
Sebagai teleskop pemula, teleskop ini nyaris sempurna kecuali satu hal yang dirasa tidak menguntungkan yaitu red dot finder. Posisi red dot finder mepet sekali ke tabung teleskop. Selain itu posisinya juga mepet dengan eyepiece sehingga makin menulitkan. Akibatnya proses pembidikan terasa tidak nyaman. Sistem red dot finder yang digunakan pada teleskop ini memungkinkan pengamat mengalami efek paralaks. Saya mengalami kesulitan untuk membidik objek langit.
Medan pandang yang lebar membuat teleskop ini cocok untuk astrofotografi objek langit dalam seperti gugus bintang, nebula, galaksi. Namun sangat disayangkan teleskop ini tidak memiliki motor penggerak untuk mengikuti pergerakan benda langit. Namun jangan kecewa, aktivitas astrofotografi ringan tetap dapat dilakukan dengan teleskop ini. Dengan menempelkan kamera saku ke eyepiece teleskop anda sudah bisa melakukan pemotretan. Teknik lain adalah menggunakan video khusus astronomi atau webcam yang telah dimodifikasi untuk melakukan pemotretan. Objek pemotretan yang bisa didapatkan dengan dua teknik sebelumnya antara lain: Bulan, Venus, Jupiter, dan Saturnus.
Bagi pemula astronomi dan pecinta pengamatan visual, teleskop ini saya rekomendasikan. Penggunaannya yang mudah disertai kualitas optik yang baik akan mendukung kegiatan pengamatan anda. Untuk pemula astrofotografi, teleskop ini akan menjadi sahabat yang baik. Selamat mengamat!
Kenapa langit berwarna biru?
Atmosfer menghamburkan cahaya Matahari, menyisakan keelokan biru buat mata kita.Atmosfer menghamburkan cahaya Matahari, menyisakan keelokan biru buat mata kita.
Celestron AstroMaster 130EQ
Teleskop ini cocok untuk pemula astronomi meski belum memiliki penggerak otomatis..
Monumen astronomi bernama Borobudur
Lebih satu milenium lalu, candi Buddha ini adalah rumah ibadah sekaligus observatorium.
Showing posts with label instruments. Show all posts
Showing posts with label instruments. Show all posts
Wednesday, December 10, 2008
Thursday, November 27, 2008
Review Teleskop: Celestron AstroMaster 70AZ
Oleh Celestron, teleskop ini tidak murni ditujukan untuk pengamatan astronomi melainkan juga berfungsi sebagai teropong medan. Dengan harga yang berkisar antara 1.5 hingga 2 juta teleskop ini lebih menonjolkan aspek kekokohan. Tabung teleskop memang terasa kokoh. Ditambah lagi mounting dan tripod yang terbuat dari bahan dengan kualitas baik semakin menambah keyakinan saya akan kekokohan teleskop ini. Paket teleskop terdiri dari tabung teleskop, eyepiece, red dot finder, piringan finder, mounting altitud-azimut tanpa motor, dan tripod.Perakitan teleskop bukan hal yang sulit. Hal pertama yang kita lakukan adalah memasangkan mounting ke tripod. Setelah itu kita dapat memasang tabung teleskop ke mounting melalui dovetail khas celestron yang berwarna oranye. Bagi seorang pemula sekalipun perakitan dapat dilakukan kurang dari 10 menit asalkan sebelumnya membaca buku manual.
Begitu kita memulai pengamatan maka kekurangan teleskop ini langsung terasa: pointingnya susah! Untuk Jupiter yang terang saya membutuhkan waktu hampir sepuluh menit! Rekor terbaru saya :D. Permasalahannya terletak pada red dot findernya yang jelek dan sistem pengunci yang tidak nyaman. Sebagai alat pembidik, red dot finder pada teleskop ini nyaris seperti aksesoris penghias saja tanpa terasa kegunaannya. Untuk menghindari efek paralaks mata pengamat harus diletakkan sedekat mungkin ke bagian belakang red dot finder. Padahal di saat yang sama kita juga harus menggeser posisi teleskop lalu melakukan penguncian. Batang penguncinya terasa keras. Penguncian menyebabkan medan pandang berubah secara signifikan. Sangat tidak menyenangkan.
Kualitas optik teleskop ini termasuk baik. Dengan eyepiece 20 mm, saya mendapatkan perbesaran 45 kali dan dapat melihat bayangan Jupiter yang tajam. Dengan perbesaran 180 kali saya masih mendapatkan bayangan yang baik. Sayangnya saya hanya bisa melakukan pengetesan untuk Jupiter karena berikutnya saya merasa sudah habis dengan teleskop ini. Tetapi dinilai dari bayangan Jupiter yang telah saya lihat sebelumnya, kualitas optik teleskop ini terbilang baik.
Sebagai kesimpulan, saya menyatakan bahwa teleskop ini jauh dari harapan penggemar astronomi manapun. Celestron dalam keterangannya memang setengah hati menempatkan produk ini sebagai produk yang ditujukan untuk pengamatan astronomi. Jika anda ingin berkecimpung dalam dunia astronomi, saya tidak merekomendasikan produk ini, ya, kecuali jika anda ingin menjadi pengawas Merapi.
Tuesday, November 18, 2008
Review Teleskop: Celestron Powerseeker 80EQ

Saya menggunakan teleskop refraktor ini beberapa waktu lalu. Pabrikan Celestron menawarkan teleskop low end ini dengan harga bersaing, di bawah dua juta rupiah, membuat teleskop ini terjangkau konsumen terutama pemula astronomi pengamatan.
Satu set teleskop terdiri dari tabung, seperangkat eyepiece, diagonal, finderscope, counterweight, gerak halus, mounting ekuatorial tanpa motor, lensa barlow, piringan eyepiece, tripod. Semuanya dikemas dalam sebuah kardus ringkih. Sebagai bonus, terdapat paket software peta bintang The Sky dengan database benda langit terbatas.
Merakit teleskop adalah hal yang susah-susah-gampang bagi pemula. Namun dengan mengikuti petunjuk yang dari buku manual, perakitan dapat dilakukan kurang dari 10 menit. Pengaturan counterweight secara seimbang, kolimasi finder, dan pengaturan alignment utara-selatan benar, menjamin kenyamanan pengamatan.
Tabung teleskop terbuat dari bahan standar untuk teleskop low end, dilengkapi dengan dewcap pengusir embun yang dapat dibongkar pasang. Di Indonesia, dewcap sangat diperlukan untuk melindungi teleskop dari uap air akibat kelembaban udara malam yang tinggi. Pada moncong teleskop tersimpan lensa berdiameter 8 cm dan panjang fokus 90 cm.
Eyepiece 20 cm yang disediakan membuat teleskop memiliki perbesaran normal sebesar 45 kali. Perbesaran ini cukup baik untuk mengamati permukaan bulan. Ketika mengarahkan teleskop ke planet Saturnus, saya kaget dengan kualitas bayangan yang dihasilkan. Saturnus terlihat jernih sampai-sampai saya bisa membedakan bola Saturnus dengan cincinnya. Kemudian saya mengalihkan pengamatan pada bintang ganda Albireo (kenal lebih jauh bintang ganda melalui artikel ini). Hasilnya sangat meyakinkan, albireo terpisah dengan baik. Pun warna bintang kontras sekali sehingga memberikan pengalaman yang sempurna. Tanpa motor, bintang dapat berada di dalam medan pandang dalam kurun waktu 5 menit.
Saya menjajal kemampuan lensa barlow. Paket teleskop ini menyediakan lensa barlow 3 kali sehingga menghasilkan perbesaran meningkat dari semula 45 kali menjadi 135 kali. Dengan alingment finder yang cukup baik saya dapat dengan mudah menempatkan objek di dalam medan pandang.
Permasalahan muncul ketika saya mencoba mengunci mounting. Pengunci kurang kokoh! Ditambah lagi pergeseran medan pandang saat melakukan penguncian akibat tekanan oleh batang pengunci. Mengganggu sekali. Sepanjang malam pengamatan, saya kesulitan beradaptasi dengan sitem penguncian ini.
Bagi pemula, saya merekomendasikan pengamatan dilakukan tanpa lensa barlow. Penggunaan lensa barlow membuat medan teleskop bergetar hebat sehingga diperlukan adaptasi lebih lama.
Harga yang relatif murah membuat Celestron memotong fungsi motor pada mounting teleskop. Meski tanpa motor, mounting ekuatorial memudahkan pengguna dalam mengendalikan tabung teleskop. Karenanya, Celestron menyediakan penggerak halus teleskop. Sistem penggerak pada Powerseeker 80EQ adalah sistem penggerak yang lazim digunakan pada teleskop low end. Performa batang gerak halus cukup baik asalkan kita terlebih dahulu menala tingkat kekencangan baut pengunci yang menempel di mounting.
Tripod alumunium yang disediakan memiliki tingkat kekokohan yang cukup baik. Namun jangan sampai anda menyenggol tripod yang ringan ini karena akan menggeser posisi tripod cukup jauh bahkan bisa menggetarkan tabung teleskop.
Fotografi dan Powerseeker 80EQ tak bersahabat karib. Hanya teknik fotografi tertentu yang bisa diterapkan pada teleskop ini. Dengan kamera saku, kita dapat menempelkan lensa kamera ke eyepiece teleskop, lalu jepret. Teknik lain yang bisa dilakukan adalah memotret dengan webcam. Teknik yang lebih baik seperti prime focus nyaris tidak mungkin dilakukan bersama teleskop ini (kenal lebih jauh teknik prime focus di artikel ini dan artikel mendetail ini).
Teleskop ini saya rekomendasikan untuk digunakan oleh astronom amatir yang ingin memulai kegiatan pengamatan. Harga di bawah dua juta rupiah sebanding dengan satu paket teleskop dengan kualitas optik baik.
Hal lain yang patut menjadi pertimbangan sebelum membawa teleskop ini ke rumah adalah sistem pengunci yang merepotkan. Namun hal ini bisa diatasi dengan membiasakan diri.
Bagi yang memiliki minat fotografi, teleskop ini bukan pilihan yang pas. Kegiatan fotografi bisa dilakukan secara terbatas. Selebihnya, dengan memperbanyak jam terbang pengamatan maka pengguna bisa menjinakkan teleskop ini.
Selamat mengamat!
Sunday, May 25, 2008
Borobudur dan Polaris
Kutub langit adalah titik temu perpanjangan sumbu rotasi Bumi dengan bidang langit. Dari tahun ke tahun posisi kutub langit berubah karena presesi sebesar ~ 50" per tahun.
Pada masa sekarang kutub utara langit dekat sekali dengan Bintang Kutub (Polar Star, Polaris) dengan jarak sedekat ~1 derajat busur. Dari Indonesia belahan selatan Bintang Kutub sudah sulit/tidak bisa terlihat. Sementara dari Indonesia belahan utara Bintang Kutub masih dapat terlihat.
Salah satu teori menarik menyangkut Bintang Kutub adalah kemungkinan besar pada masa pembuatan candi Borobudur Bintang Kutub masih terlihat. Apakah teori ini masuk akal?
Penelusuran awal menggunakan beberapa software peta langit populer dapat menjadi referensi awal. Software peta langit memiliki kemampuan untuk melakukan simulasi langit sebenarnya untuk setiap waktu yang dapat kita tentukan. Untuk memberikan gambaran sedekat mungkin software peta langit juga memasukkan perhitungan presesi dalam algoritmanya. Hal ini akan membantu kita dalam menyimulasikan keadaan langit pada zaman pembuatan candi Borobudur.

Candi borobudur berada pada koordinat 7.608 LS dan 110.2 BT dengan ketinggian 265 di atas permukaan laut. Pembangunanya dilakukan pada masa dinasti Sailendra (760-830 M) yang mendapat sokongan dari kerajaan Sriwijaya. Sailendra dalam bahasa Sansekerta berarti penguasa gunung. Pembangunan memakan waktu 75 tahun dan selesai pada masa pemerintahan Samaratungga tahun 825 M. Arsitek pembangunan Borobudur bernama Gunadharma.
Gambar di samping memperlihatkan simulasi langit menggunakan Starry Night. Lokasi pengamatan adalah daerah Borobudur ketinggian 265m dpl pada tanggal 7 Agustus 800 M, dengan proyeksi alt-az. Terlihat bahwa Polaris terbit pada jam 01:00 dan tenggelam jam 03:05 waktu lokal.
Gambar berikut menunjukkan simulasi dengan software The Sky. Polaris pada tanggal 19 Agustus 800 M, terbit pada 00:14 dan tenggelam 02:19 waktu lokal.

Menariknya, Polaris sudah terlihat untuk terakhir kalinya dari Borobudur pada tahun 850 M Seperti yang terlihat dari gambar di bawah.
Sementara saat ini Polaris tentu saja sudah jauh di bawah horizon Borobudur sehingga tidak bisa terlihat.
Simulasi menggunakan peta langit hanyalah upaya awal dari penelusuran kebenaran dari alignment ini. Tentu saja akan sangat sulit mengamati Polaris yang bermagnitudo 2 yang berada di horizon. Penelitian lebih lanjut harus memikirkan ekstingsi atmosfer, dan ketinggian horizon dari puncak Borobudur sehingga bisa diperoleh simulasi yang mendekati.
Pertanyaan lain yang mengganjal adalah kenapa harus menggunakan polaris yang telah bergeser sejauh enam derajat dari kutub utara benar? Jawaban sementara untuk pertanyaan ini adalah karena jika kita menghadap ke arah polaris yang sedang transit maka kita sekaligus menghadap ke arah utara benar?
Jika Borobudur memang dibangun dengan alignment terhadap polaris maka seharusnya bangsa Mataram kuno memiliki pengukuran dan perhitungan yang sangat maju terhadap pergerakan dan posisi benda langit. Tentu kita berharap ilmu pengukuran dan perhitungan seperti ini diturunkan ke generasi selanjutnya dan mungkinkah ada pencatatan mengenai gerhana, supernova, komet selama masa tersebut? Untuk kasus supernova, hingga saat ini disepakati supernova terjadi 2 kali per abad di Bima Sakti. Pencatatan dari pengamat dari belahan bumi utara memperlihatkan angka yang jauh lebih sedikit dari yang diprediksi. Tentunya kita berharap ada pencatatan supernova untuk langit belahan selatan dari wilayah Indonesia yang dapat mengamati bola langit yang lebih luas. Mungkinkah penerus Mataram kuno memiliki pencatatan mengenai hal ini? Jika ada maka bisa saja pengetahuan klasik bisa memberi kontribusi bagi penelitian supernova di Bima Sakti.
Pada masa sekarang kutub utara langit dekat sekali dengan Bintang Kutub (Polar Star, Polaris) dengan jarak sedekat ~1 derajat busur. Dari Indonesia belahan selatan Bintang Kutub sudah sulit/tidak bisa terlihat. Sementara dari Indonesia belahan utara Bintang Kutub masih dapat terlihat.Salah satu teori menarik menyangkut Bintang Kutub adalah kemungkinan besar pada masa pembuatan candi Borobudur Bintang Kutub masih terlihat. Apakah teori ini masuk akal?
Penelusuran awal menggunakan beberapa software peta langit populer dapat menjadi referensi awal. Software peta langit memiliki kemampuan untuk melakukan simulasi langit sebenarnya untuk setiap waktu yang dapat kita tentukan. Untuk memberikan gambaran sedekat mungkin software peta langit juga memasukkan perhitungan presesi dalam algoritmanya. Hal ini akan membantu kita dalam menyimulasikan keadaan langit pada zaman pembuatan candi Borobudur.

Candi borobudur berada pada koordinat 7.608 LS dan 110.2 BT dengan ketinggian 265 di atas permukaan laut. Pembangunanya dilakukan pada masa dinasti Sailendra (760-830 M) yang mendapat sokongan dari kerajaan Sriwijaya. Sailendra dalam bahasa Sansekerta berarti penguasa gunung. Pembangunan memakan waktu 75 tahun dan selesai pada masa pemerintahan Samaratungga tahun 825 M. Arsitek pembangunan Borobudur bernama Gunadharma.
Gambar di samping memperlihatkan simulasi langit menggunakan Starry Night. Lokasi pengamatan adalah daerah Borobudur ketinggian 265m dpl pada tanggal 7 Agustus 800 M, dengan proyeksi alt-az. Terlihat bahwa Polaris terbit pada jam 01:00 dan tenggelam jam 03:05 waktu lokal.Gambar berikut menunjukkan simulasi dengan software The Sky. Polaris pada tanggal 19 Agustus 800 M, terbit pada 00:14 dan tenggelam 02:19 waktu lokal.

Menariknya, Polaris sudah terlihat untuk terakhir kalinya dari Borobudur pada tahun 850 M Seperti yang terlihat dari gambar di bawah.
Sementara saat ini Polaris tentu saja sudah jauh di bawah horizon Borobudur sehingga tidak bisa terlihat.
Simulasi menggunakan peta langit hanyalah upaya awal dari penelusuran kebenaran dari alignment ini. Tentu saja akan sangat sulit mengamati Polaris yang bermagnitudo 2 yang berada di horizon. Penelitian lebih lanjut harus memikirkan ekstingsi atmosfer, dan ketinggian horizon dari puncak Borobudur sehingga bisa diperoleh simulasi yang mendekati.
Pertanyaan lain yang mengganjal adalah kenapa harus menggunakan polaris yang telah bergeser sejauh enam derajat dari kutub utara benar? Jawaban sementara untuk pertanyaan ini adalah karena jika kita menghadap ke arah polaris yang sedang transit maka kita sekaligus menghadap ke arah utara benar?Jika Borobudur memang dibangun dengan alignment terhadap polaris maka seharusnya bangsa Mataram kuno memiliki pengukuran dan perhitungan yang sangat maju terhadap pergerakan dan posisi benda langit. Tentu kita berharap ilmu pengukuran dan perhitungan seperti ini diturunkan ke generasi selanjutnya dan mungkinkah ada pencatatan mengenai gerhana, supernova, komet selama masa tersebut? Untuk kasus supernova, hingga saat ini disepakati supernova terjadi 2 kali per abad di Bima Sakti. Pencatatan dari pengamat dari belahan bumi utara memperlihatkan angka yang jauh lebih sedikit dari yang diprediksi. Tentunya kita berharap ada pencatatan supernova untuk langit belahan selatan dari wilayah Indonesia yang dapat mengamati bola langit yang lebih luas. Mungkinkah penerus Mataram kuno memiliki pencatatan mengenai hal ini? Jika ada maka bisa saja pengetahuan klasik bisa memberi kontribusi bagi penelitian supernova di Bima Sakti.
Wednesday, June 6, 2007
Centaurus A
Ini adalah foto galaksi centaurus-A, sumber radio terbesar di langit. Galaksi ini jauh di selatan sehingga hanya orang selatan yang bisa meneropongnya.
Foto ini diambil oleh Denny Mandey, menggunakan teleskop celestron Nexstar GPS 8", CCD ST8, dan filter BVR. Pengolahan citra saya yang melakukannya, menggunakan IRIS.
Foto-foto dalam astronomi merupakan gabungan dari beberapa foto dari jendela panjang gelombang yang berbeda. Foto ini gabungan jendela B + V + R.

Jika anda perhatikan lebih baik nampak bahwa jendela V menghasilkan foto yang lebih redup dibandingkan dua jendela lainnya. Perbedaan kecerlangan benda langit padajendela panjang gelombang yang berbeda disebabkan oleh karakter intrinsik benda langit tersebut.
Kita ambil contoh matahari. Jika kita memotret matahari pada panjang gelombang biru, kuning, dan merah maka kita akan mendapatkan matahari tampak lebih cerlang pada panjang gelombang kuning. Tentu saja ini menjelaskan bahwa puncak kecerlangan matahari ada pada panjang gelombang kuning (Contoh ini benar selama kita menganggap alat yang kita gunakan berkelakuan sama dalam mendeteksi jendela panjang gelombang yang berbeda).
Proses menggabungkan warna kita kenal juga pada televisi berwarna. Televisi tersusun dari pipa-pipa mini berdekatan yang memiliki tiga warna yaitu merah hijau dan biru. Televisi terlihat berwarna akibat gabungan dari tiga warna tersebut dalam intensitas yang berbeda-beda.
Pada televisi berwarna kita sebenarnya tidak mengenal konsep "warna hitam". Hitam pada layar televisi terjadi ketika intensitas tiga warna diperkecil serendah mungkin.
Setelah menggabungkan tiga foto yang berbeda dan menampihnya sebagai merah, hijau dan biru maka sebuah foto berwarna tercipta.
Semua titik terang yang terlihat pada foto ini adalah bintang pada galaksi Bima Sakti. Sementara Galaksi Centaurus A berada jauh di luar Bima Sakti.
Yang menjadi cirikhas dari galaksi Centaurus-A adalah pola celah hitam yang membelah bundaran galaksi. Celah ini adalah materi antar bintang pada galaksi yang menghalangi cahaya untuk sampai ke Bumi.
Terimakasih buat Denny yang sudah memberi izin kepada saya untuk mengolah
fotonya.
Foto ini diambil oleh Denny Mandey, menggunakan teleskop celestron Nexstar GPS 8", CCD ST8, dan filter BVR. Pengolahan citra saya yang melakukannya, menggunakan IRIS.
Foto-foto dalam astronomi merupakan gabungan dari beberapa foto dari jendela panjang gelombang yang berbeda. Foto ini gabungan jendela B + V + R.

Jika anda perhatikan lebih baik nampak bahwa jendela V menghasilkan foto yang lebih redup dibandingkan dua jendela lainnya. Perbedaan kecerlangan benda langit padajendela panjang gelombang yang berbeda disebabkan oleh karakter intrinsik benda langit tersebut.
Kita ambil contoh matahari. Jika kita memotret matahari pada panjang gelombang biru, kuning, dan merah maka kita akan mendapatkan matahari tampak lebih cerlang pada panjang gelombang kuning. Tentu saja ini menjelaskan bahwa puncak kecerlangan matahari ada pada panjang gelombang kuning (Contoh ini benar selama kita menganggap alat yang kita gunakan berkelakuan sama dalam mendeteksi jendela panjang gelombang yang berbeda).
Proses menggabungkan warna kita kenal juga pada televisi berwarna. Televisi tersusun dari pipa-pipa mini berdekatan yang memiliki tiga warna yaitu merah hijau dan biru. Televisi terlihat berwarna akibat gabungan dari tiga warna tersebut dalam intensitas yang berbeda-beda.
Pada televisi berwarna kita sebenarnya tidak mengenal konsep "warna hitam". Hitam pada layar televisi terjadi ketika intensitas tiga warna diperkecil serendah mungkin.
Setelah menggabungkan tiga foto yang berbeda dan menampihnya sebagai merah, hijau dan biru maka sebuah foto berwarna tercipta.
Semua titik terang yang terlihat pada foto ini adalah bintang pada galaksi Bima Sakti. Sementara Galaksi Centaurus A berada jauh di luar Bima Sakti.
Yang menjadi cirikhas dari galaksi Centaurus-A adalah pola celah hitam yang membelah bundaran galaksi. Celah ini adalah materi antar bintang pada galaksi yang menghalangi cahaya untuk sampai ke Bumi.
Terimakasih buat Denny yang sudah memberi izin kepada saya untuk mengolah
fotonya.
Monday, March 26, 2007
Menentukan Arah
A. Metoda Bayangan
Untuk mempraktekkan metoda ini carilah sebuah tongkat sepanjang 1 meter. Metoda ini sangat mudah dan akurat, terdapat beberapa langkah:
1. Tancapkan tongkat pada permukaan tanah. Tandai bayangan ujung tonkat. Jika matahari berada di timur maka bayangan akan jatuh di barat, dan sebaliknya.
2. Tunggu beberapa saat, 20 hingga 30 menit, bayangan akan berubah, kembali tandai bayangan ujung tongkat.
3. Hubungkan dua titik yang telah kita tandai sebelumnya dengan sebuah garis lurus, maka garis tersebut adalah garis timur-barat.
4. Jika anda berdiri dengan arah barat ada di kanan maka anda menghadap ke selatan, dan sebaliknya, jika arah barat ada di kanan maka anda menghadap ke utara.
5. Untuk menentukan arah yang lebih akurat buatlah sebuah garis baru yang tegak lurus garis timur-barat, garis baru tersebut adalah garis utara-selatan benar.
Metoda bayangan bisa digunakan di daerah manapun di bumi selagi kita dapat melihat matahari. Metoda ini juga sangat akurat dalam menentukan posisi utara-selatan benar.
Metoda bayangan jenis lain juga bisa dilakukan, masih menggunakan tongkat tetapi kita melakukan percobaannya sepanjang pagi hingga sore hari. Caranya adalah sebagai berikut:
1. Pada pagi hari amati ujung bayangan tongkat, lalu tandai.
2. Buat sebuah lingkaran penuh yang berpusat pada titik tertancapnya tongkat, dengan radius hingga ujung bayangan yang kita tandai.
3. Kembalilah pada sore hari, amati saat di mana ujung bayangan tongkat kembali menyentuh lingkaran yang telah kita buat sebelumnya.
4. Hubungkan dua titik yang ada pada lingkaran dengan sebuah garis lurus, maka anda telah berhasil membuat arah timur-barat.
5. Selanjutnya buat garis baru yang tegak lurus garis timur-barat, maka anda telah berhasil membuat garis selatan-utara.
B. Metoda Jam Tangan
Kita juga dapat menggunakan jam tangan analog untuk menentukan arah. Cara ini cukup mudah dan cukup akurat. Metda ini diterapkan secdara berbeda untuk belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Berikut cara menentukan arah untuk belahan bumi selatan:
1. Arahkan angka 12 pada jam tangan anda ke arah matahari.
2. Amati busur terpendek yang dibentuk dari angka dua belas dan jarum pendek, kemudian bagilah busur tersebut menjadi dua bagian yang sama besar. Garis yang membagi busur adalah garis hubung selatan-utara.
Untuk belahan bumi utara gunakan cara berikut:
1. Arahkan jarum pendek ke arah matahari.
2. Amati busur terpendek yang dibentuk oleh jarum pendek dan angka dua belas, kemudian bagi busur tersebut menjadi dua sama besar. garis yang membagi busur tersebut akan menunjukkan arah selatan-utara.
Sedikit koreksi untuk daerah yang menerapkan Daylight Saving Time, angka satu sebagai pengganti angka dua belas.
C. Metoda Bintang
Beberapa bintang membentuk pola tertentu yang dapat kita tandai sebagai penunjuk arah. Penduduk belahan utara biasanya menggunakan bintang kutub, yang posisinya hampir berhimpit dengan sumbu utara langit, sebagai penunjuk arah utara.
Di daerah selatan biasanya digunakan rasi Crux sebagai penunjuk arah selatan. Crux sangat mudah dikenali yaitu empat bintang terang yang membentuk konfigurasi salib. Gunakan sumbu terpanjang rasi tersebut kemudian tarik garis lurus ke arah "bawah" salib, bayangkan sebuah titik yang berjarak lima kali sumbu panjang Crux. Selanjutnya dari titik imajiner tersebut tariklah garis yang tegak lurus horizon, maka perpotongan garis tersebut dengan horizon adalah arah selatan.
Untuk mempraktekkan metoda ini carilah sebuah tongkat sepanjang 1 meter. Metoda ini sangat mudah dan akurat, terdapat beberapa langkah:
1. Tancapkan tongkat pada permukaan tanah. Tandai bayangan ujung tonkat. Jika matahari berada di timur maka bayangan akan jatuh di barat, dan sebaliknya.
2. Tunggu beberapa saat, 20 hingga 30 menit, bayangan akan berubah, kembali tandai bayangan ujung tongkat.
3. Hubungkan dua titik yang telah kita tandai sebelumnya dengan sebuah garis lurus, maka garis tersebut adalah garis timur-barat.
4. Jika anda berdiri dengan arah barat ada di kanan maka anda menghadap ke selatan, dan sebaliknya, jika arah barat ada di kanan maka anda menghadap ke utara.
5. Untuk menentukan arah yang lebih akurat buatlah sebuah garis baru yang tegak lurus garis timur-barat, garis baru tersebut adalah garis utara-selatan benar.
Metoda bayangan bisa digunakan di daerah manapun di bumi selagi kita dapat melihat matahari. Metoda ini juga sangat akurat dalam menentukan posisi utara-selatan benar.
Metoda bayangan jenis lain juga bisa dilakukan, masih menggunakan tongkat tetapi kita melakukan percobaannya sepanjang pagi hingga sore hari. Caranya adalah sebagai berikut:
1. Pada pagi hari amati ujung bayangan tongkat, lalu tandai.
2. Buat sebuah lingkaran penuh yang berpusat pada titik tertancapnya tongkat, dengan radius hingga ujung bayangan yang kita tandai.
3. Kembalilah pada sore hari, amati saat di mana ujung bayangan tongkat kembali menyentuh lingkaran yang telah kita buat sebelumnya.
4. Hubungkan dua titik yang ada pada lingkaran dengan sebuah garis lurus, maka anda telah berhasil membuat arah timur-barat.
5. Selanjutnya buat garis baru yang tegak lurus garis timur-barat, maka anda telah berhasil membuat garis selatan-utara.
B. Metoda Jam Tangan
Kita juga dapat menggunakan jam tangan analog untuk menentukan arah. Cara ini cukup mudah dan cukup akurat. Metda ini diterapkan secdara berbeda untuk belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Berikut cara menentukan arah untuk belahan bumi selatan:
1. Arahkan angka 12 pada jam tangan anda ke arah matahari.
2. Amati busur terpendek yang dibentuk dari angka dua belas dan jarum pendek, kemudian bagilah busur tersebut menjadi dua bagian yang sama besar. Garis yang membagi busur adalah garis hubung selatan-utara.
Untuk belahan bumi utara gunakan cara berikut:
1. Arahkan jarum pendek ke arah matahari.
2. Amati busur terpendek yang dibentuk oleh jarum pendek dan angka dua belas, kemudian bagi busur tersebut menjadi dua sama besar. garis yang membagi busur tersebut akan menunjukkan arah selatan-utara.
Sedikit koreksi untuk daerah yang menerapkan Daylight Saving Time, angka satu sebagai pengganti angka dua belas.
C. Metoda Bintang
Beberapa bintang membentuk pola tertentu yang dapat kita tandai sebagai penunjuk arah. Penduduk belahan utara biasanya menggunakan bintang kutub, yang posisinya hampir berhimpit dengan sumbu utara langit, sebagai penunjuk arah utara.
Di daerah selatan biasanya digunakan rasi Crux sebagai penunjuk arah selatan. Crux sangat mudah dikenali yaitu empat bintang terang yang membentuk konfigurasi salib. Gunakan sumbu terpanjang rasi tersebut kemudian tarik garis lurus ke arah "bawah" salib, bayangkan sebuah titik yang berjarak lima kali sumbu panjang Crux. Selanjutnya dari titik imajiner tersebut tariklah garis yang tegak lurus horizon, maka perpotongan garis tersebut dengan horizon adalah arah selatan.
Wednesday, February 14, 2007
Pengamatan Hilal Berbasis CCD
Pemerintah Indonesia menggunakan metode pengamatan bulan sabit muda (Rukyatul Hilal) untuk menentukan awal bulan-bulan Hijriyah. Rukyatul Hilal pada prakteknya digunakan untuk menentukan awal bulan selain Ramadhan, Syawal dan Zuhijjah. Dengan metode ini, pemerintah sekaligus menendang metode perhitungan (Hisab) yang lazim digunakan Muhammadiyah sebagai penentu keputusan.
Perbedaan teknik pengambilan keputusan ini menurut sebagian besar praktisi penanggalan Hijriyah disebabkan belum adanya kesamaan kriteria hilal. Permasalahan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan membuat konsensus bersama yang diinisiasi oleh pemerintah. Namun, dari sisi pemerintah, belum ada keseriusan dalam meningkatkan kemampuan Rukyatul Hilal dan Hisab.
Dari perspektif Hisab, perhitungan yang lebih teliti sebenarnya sudah bisa dilakukan dengan komputer. Sebagai contoh, sekarang ini telah tersedia peta langit lengkap dengan katalog yang dapat mensimulasi keadaaan langit ketika terjadi konjungsi bulan. Ketelitiannya dapat diacungi jempol, setidaknya rentang kesalahannya masih dapat ditolerir yaitu melenceng maksimal 1 detik busur. Pemerintah bisa saja menggunakan software ini peta langit ini. Jika "sungkan" menggunakan peta langit buatan orang lain, pemerintah bisa membuat software sendiri dengan bertolak dari pengamatan rutin secara tekun dan teliti selama puluhan tahun lalu. Kemungkinan terakhir rasanya seperti mencoba menemukan roda (reinventing the wheel).
Rukyat, sebagai metode yang digunakan pemerintah, lebih parah lagi. Teknik instrumentasi astronomi berkembang pesat namun pemerintah masih menggunakan peralatan sederhana seperti theodolit. Pemerintah seharusnya mulai beralih menggunakan teleskop yang ditemukan 400 tahun lalu. Alat bantu ini tidak saja memperbesar bayangan hilal namun bisa diatur agar meningkatkan kejernihan dan kekontrasan gambar terhadap cahaya langit di latar depan.
Dari sekian banyak lokasi pengamatan hilal di Indonesia, masih sedikit pengamat hilal yang memakai teleskop. Menurut seorang dosen astronomi, pengamat enggan memakai teleskop karena tidak bisa mengarahkan teleskop ke arah hilal!
Hilal merupakan sabit bulan paling tipis yang dapat diamati manusia di permukaan bumi. Cahaya dari sabit bulan berkompetisi dengan langit sore yang terang. Pengamat, yang secara psikologis sangat menantikan hilal, sering bersugesti melihat hilal. Padahal kenyataannya ia sedang melihat lampu nelayan atau planet Venus.
Karena itu, saya dan teman-teman bersepakat untuk mengimplementasikan sebuah sistem pengamatan hilal berbasis kamera CCD. Prinsipnya, pengamatan sabit bulan muda dilakukan menggunakan teleskop. Selanjutnya, pada ujung teleskop diletakkan kamera CCD. Penempatan kamera CCD ini agar pengamat tak perlu lagi menempelkan mata ke teropong.
Kamera CCD merekam bayangan bulan sebagai berkas gambar digital yang disimpan di hard disk. Berkas digital ini bisa diekstrak menggunakan algoritma pengolahan gambar sehingga penampakan hilal bisa terpisah jelas. Pengamat juga bisa melihat langsung gambar sabit bulan muda melalui monitor. Pun Quick Image Processing bisa dilakukan secara terpisah. Data pengamatan ini, hasil pemrosesan software atau olahan pengamat, segera diupload ke web melalui jaringan internet sehingga bisa dilihat publik. Pengamatan hilal menjadi lebih akurat dan cepat sekaligus menyadarkan masyarakat akan proses pengamatan hilal.
Selain dapat melihat hilal, data CCD dapat diproses di kemudian hari. Hasil pemrosesan ini bisa disumbangkan untuk data pengamatan hilal seluruh dunia. Saat ini jumlah data hilal dunia, khususnya dari bumi belahan selatan, memang masih sedikit. Indonesia akan memainkan peranan penting dalam penelitian hilal karena punya wilayah yang luas dan zona waktu yang lebar.
Implementasi ide ini akan berupa sebuah riset dengan periode Maret hingga Juni tahun ini. Untuk tempat pengamatan sejauh ini kami sepakat di Observatorium Bosscha dan Pelabuhan Ratu.
Sebagai akhir tulisan saya ini berikut ada file presentasi yang diberikan oleh teman saya, Evan, yang membahas mengenai kalender hijriyah. Bagi anda yang berminat, silakan mendownloadnya berkas berukuran ~900kb.
Perbedaan teknik pengambilan keputusan ini menurut sebagian besar praktisi penanggalan Hijriyah disebabkan belum adanya kesamaan kriteria hilal. Permasalahan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan membuat konsensus bersama yang diinisiasi oleh pemerintah. Namun, dari sisi pemerintah, belum ada keseriusan dalam meningkatkan kemampuan Rukyatul Hilal dan Hisab.
Dari perspektif Hisab, perhitungan yang lebih teliti sebenarnya sudah bisa dilakukan dengan komputer. Sebagai contoh, sekarang ini telah tersedia peta langit lengkap dengan katalog yang dapat mensimulasi keadaaan langit ketika terjadi konjungsi bulan. Ketelitiannya dapat diacungi jempol, setidaknya rentang kesalahannya masih dapat ditolerir yaitu melenceng maksimal 1 detik busur. Pemerintah bisa saja menggunakan software ini peta langit ini. Jika "sungkan" menggunakan peta langit buatan orang lain, pemerintah bisa membuat software sendiri dengan bertolak dari pengamatan rutin secara tekun dan teliti selama puluhan tahun lalu. Kemungkinan terakhir rasanya seperti mencoba menemukan roda (reinventing the wheel).
Rukyat, sebagai metode yang digunakan pemerintah, lebih parah lagi. Teknik instrumentasi astronomi berkembang pesat namun pemerintah masih menggunakan peralatan sederhana seperti theodolit. Pemerintah seharusnya mulai beralih menggunakan teleskop yang ditemukan 400 tahun lalu. Alat bantu ini tidak saja memperbesar bayangan hilal namun bisa diatur agar meningkatkan kejernihan dan kekontrasan gambar terhadap cahaya langit di latar depan.
Dari sekian banyak lokasi pengamatan hilal di Indonesia, masih sedikit pengamat hilal yang memakai teleskop. Menurut seorang dosen astronomi, pengamat enggan memakai teleskop karena tidak bisa mengarahkan teleskop ke arah hilal!
Hilal merupakan sabit bulan paling tipis yang dapat diamati manusia di permukaan bumi. Cahaya dari sabit bulan berkompetisi dengan langit sore yang terang. Pengamat, yang secara psikologis sangat menantikan hilal, sering bersugesti melihat hilal. Padahal kenyataannya ia sedang melihat lampu nelayan atau planet Venus.
Karena itu, saya dan teman-teman bersepakat untuk mengimplementasikan sebuah sistem pengamatan hilal berbasis kamera CCD. Prinsipnya, pengamatan sabit bulan muda dilakukan menggunakan teleskop. Selanjutnya, pada ujung teleskop diletakkan kamera CCD. Penempatan kamera CCD ini agar pengamat tak perlu lagi menempelkan mata ke teropong.
Kamera CCD merekam bayangan bulan sebagai berkas gambar digital yang disimpan di hard disk. Berkas digital ini bisa diekstrak menggunakan algoritma pengolahan gambar sehingga penampakan hilal bisa terpisah jelas. Pengamat juga bisa melihat langsung gambar sabit bulan muda melalui monitor. Pun Quick Image Processing bisa dilakukan secara terpisah. Data pengamatan ini, hasil pemrosesan software atau olahan pengamat, segera diupload ke web melalui jaringan internet sehingga bisa dilihat publik. Pengamatan hilal menjadi lebih akurat dan cepat sekaligus menyadarkan masyarakat akan proses pengamatan hilal.
Selain dapat melihat hilal, data CCD dapat diproses di kemudian hari. Hasil pemrosesan ini bisa disumbangkan untuk data pengamatan hilal seluruh dunia. Saat ini jumlah data hilal dunia, khususnya dari bumi belahan selatan, memang masih sedikit. Indonesia akan memainkan peranan penting dalam penelitian hilal karena punya wilayah yang luas dan zona waktu yang lebar.
Implementasi ide ini akan berupa sebuah riset dengan periode Maret hingga Juni tahun ini. Untuk tempat pengamatan sejauh ini kami sepakat di Observatorium Bosscha dan Pelabuhan Ratu.
Sebagai akhir tulisan saya ini berikut ada file presentasi yang diberikan oleh teman saya, Evan, yang membahas mengenai kalender hijriyah. Bagi anda yang berminat, silakan mendownloadnya berkas berukuran ~900kb.
Saturday, November 4, 2006
BVR Bulan
Kali ini sesi imaging bersama dengan kawan-kawan dari Observatorium Langkawi dan Planetarium KL. Objek yang kami amati pada 2 November 2006 adalah bulan dengan instrumen: Celestron C11 11", CCD ST-9, filter BVRI.
Tentu saja dengan diameter 11" dan batas eksposur minimal CCD selama 0.12 sekon membuat bulan terekam saturasi! Untuk mengantisipasinya bukaan lensa dikurangi dengan menutupi bagian depan tabung teleskop dengan selembar kertas.
Pengambilan citra frame pada masing-masing filter dilakukan secara bergantian oleh kawan-kawan dari negeri jiran. Setelah pengamatan dilakukan simulasi pengolahan citra.Hari ini saya berkesempatan melakukan pengolahan citra bulan dalam filter BVR. Pita BVR saya jadikan seolah-olah pita RGB.
Proses yang saya lakukan adalah:
|1| Aligning
|2| Drizzle
|3| RGB Combining
|4| Cropping
|5| White Balance Adjustment
|6| Framing
|7| Resample
Hasilnya? lumayan lah, untuk seorang newbie dalam menggunakan C11 :)). C11 pada kesempatan ini saya simpulkan cukup baik dari segi tracking. Kualitas optik cukup baik untuk pencitraan bulan, entah untuk pencitraan sumber titik.
Metode drizzle dilakukan karena jumlah piksel CCD ST-9 yang tidak besar, yaitu 512X512 (1/4 Megapiksel).
Tentu saja dengan diameter 11" dan batas eksposur minimal CCD selama 0.12 sekon membuat bulan terekam saturasi! Untuk mengantisipasinya bukaan lensa dikurangi dengan menutupi bagian depan tabung teleskop dengan selembar kertas.
Pengambilan citra frame pada masing-masing filter dilakukan secara bergantian oleh kawan-kawan dari negeri jiran. Setelah pengamatan dilakukan simulasi pengolahan citra.Hari ini saya berkesempatan melakukan pengolahan citra bulan dalam filter BVR. Pita BVR saya jadikan seolah-olah pita RGB.
Proses yang saya lakukan adalah:
|1| Aligning
|2| Drizzle
|3| RGB Combining
|4| Cropping
|5| White Balance Adjustment
|6| Framing
|7| Resample
Hasilnya? lumayan lah, untuk seorang newbie dalam menggunakan C11 :)). C11 pada kesempatan ini saya simpulkan cukup baik dari segi tracking. Kualitas optik cukup baik untuk pencitraan bulan, entah untuk pencitraan sumber titik.
Metode drizzle dilakukan karena jumlah piksel CCD ST-9 yang tidak besar, yaitu 512X512 (1/4 Megapiksel).
Thursday, April 13, 2006
Ritchey-Chretien dan ST10XME
Saya baru baca artikel yang memperkenalkan sistem optik teleskop ternama, namanya Ritchey-Chretien System. Katanya sih bisa mengurangi aberasi koma yang lazim terdapat di teleskop reflektor. Sistem optik yang hebat!
Cermin Ritchey-Chretien melengkung secara hiperbola. Hal ini berbeda dengan teleskop reflektor biasa yang umumnya memakai permukaan parabola sehingga menciptakan aberasi koma.
Simulasi sistem optik menunjukkan performa memuaskan. Aberasi koma menjadi minimal. Akibatnya, pemotretan dengan cermin Ritchey-Chretien memberikan hasil memuaskan. Coba tengok galeri berikut ini.
Satu lagi, detektor yang digunakan untuk imaging pada galeri situs ini kebanyakan SBIG ST10XME. Kalau tidak salah mengingat, CCD SBIG ST10XME akan menjadi instrumen baru Observatorium Bosscha.. Wah, andai nanti saya bisa menjajal CCD ini.. Omega Centauri, Nebula Orion, Gugus Pleiades, galaksi-galaksi.. Hmm.... :)
Cermin Ritchey-Chretien melengkung secara hiperbola. Hal ini berbeda dengan teleskop reflektor biasa yang umumnya memakai permukaan parabola sehingga menciptakan aberasi koma.
Simulasi sistem optik menunjukkan performa memuaskan. Aberasi koma menjadi minimal. Akibatnya, pemotretan dengan cermin Ritchey-Chretien memberikan hasil memuaskan. Coba tengok galeri berikut ini.
Satu lagi, detektor yang digunakan untuk imaging pada galeri situs ini kebanyakan SBIG ST10XME. Kalau tidak salah mengingat, CCD SBIG ST10XME akan menjadi instrumen baru Observatorium Bosscha.. Wah, andai nanti saya bisa menjajal CCD ini.. Omega Centauri, Nebula Orion, Gugus Pleiades, galaksi-galaksi.. Hmm.... :)
Subscribe to:
Posts (Atom)










